Samaran Terakhir
“Kami adalah tokoh yang tak pernah mencapai klimaks. Antagonis yang direvisi. Sahabat yang tidak jadi penting. Kini kami menulis naskah kami sendiri… dengan tinta kemarahan.”
Tiba-tiba, seluruh kota huruf berguncang. Dari balik reruntuhan, muncul versi-versi cerita yang tak pernah dirilis: Adrian sebagai penjahat. Adrian sebagai makhluk abadi. Adrian sebagai ayah dari segalanya.
Salah satu dari mereka mendekat, berseru, “Kau pikir kau yang terpilih? Kami semua pernah jadi protagonis, sampai kau yang menang!”