Selir Yang Terlupakan
Jarak kami begitu dekat hingga aku bisa melihat kilatan keringat samar di pelipisnya, serta cara dadanya naik turun perlahan menahan emosi yang belum sepenuhnya mereda.
"Aku datang ke sini karena selama empat tahun ini, namamu terus menghantuiku—sebuah nama yang tak pernah benar-benar aku kenal," ucapnya, tatapannya terkunci lekat-lekat padaku seolah beban berat kini menindih bahuku. "Aku datang ke sini karena baru kusadari: saat aku sibuk memenangkan pertempuran di seberang perbatasan, aku justru kehilangan rumahku sendiri."
"Cukup adil," jawabku singkat.