Broken Flower
Suasana kamar terasa sunyi namun tegang, seperti api yang menunggu meledak di dalam dada.
“Kau tahu, mawar putih adalah bunga kesukaan ibu mertuaku. Tapi... aku tidak membawakan mawar putih itu karena maknanya,” ujar Laurine. “Bukan karena kedamaian, bukan karena kesucian, bukan karena pengampunan. Aku membawanya, agar kau bisa mewarnainya sesuka hatimu.”
Grassiela perlahan melirik, menatap Laurine dari pantulan cermin.