Library
Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
HURT

HURT

jawab Ae Ri datar seraya memasukkan donat bertoping kacang almond yang tinggal setengahnya ke dalam mulut. “Jinjja[4]?!” seru Eun Jung, terdengar senang. “Iya. Sesuai permintaan,” sahut Ae Ri. Ia meraih poci porselen berisi air teh dan menungkannya ke cangkir, lalu meminumnya perlahan. “Dan bayarannya sangat mahal.” Lawan bicaranya tertawa lepas. “Tidak ada diskon?” “Tidak.”
103.4K viewsOngoingAdded to Library 101 Times as pouted
Read
+Library
YOU

YOU

“Lo mau pesen apa? Biar gue pesenin sekalian” “Nanti aja gue pesennya. Lo mau pesen sekarang emang, Lun?” “Tadinya, tapi karna lo pesennya nanti, yaudah gue juga nanti aja deh pesennya.” “Yeh anak labil dasar.” “Hahahaha biarin, yang penting Bahagia”
2.4K viewsOngoingAdded to Library 68 Times as pouted
Read
+Library
PUDAR

PUDAR

Apalagi Mario mengirim pap yang menunjukan Asta masih tertidur pulas dalam ranjangnya. Ketika Kevin kembali muncul, ponsel yang Tika pegang sampai lepas dari tangan dengan sendirinya. Kulit Kevin yang kecokelatan kini terlihat lebih cerah setelah disuntik vitamin C. Rambut Kevin yang gondrong dengan gaya wolfcut telah berganti pendek dengan belah tengah. Penampilan Kevin yang baru ini ternyata mampu membiusnya. Tika sampai harus menyadarkan dirinya sendiri dengan kenangan pahit yang telah Kevin ciptakan dalam benaknya.
583 viewsOngoingAdded to Library 23 Times as pouted
Read
+Library
PARAMOUR

PARAMOUR

Ting tung ting tung ting tung Satu ikat bunga peony memenuhi tangan Nathan yang kini sedang menunggu dengan gusar di depan pintu. Kegelisahan seperti memenuhi pikirannya tak kala Vivian yang biasanya begitu cepat membukakan pintu, kini harus membuatnya menunggu. Semua karena rasa bersalahnya, ia mengakui kesalahannya dan ia ingin menyelesaikan semuanya. Sekali lagi Nathan menekan bel yang membuat sosok di balik pintu itu membuka pintunya dengan senyuman kecut.
667 viewsOngoingAdded to Library 13 Times as pouted
Read
+Library
FEMININ

FEMININ

"Ngapain Lo? Kan udah ada pelayan!" "Tak masalah, hanya dua potong pakaian" jawab Femi. Jee memperhatikan Femi dari jauh. Femi orang yang baik. Baru kali ini, dia menemukan gadis perawan. Bukan hanya polos, dia juga sangat penurut. Teringat kejadian barusan, saat Femi memotong jari di kukunya. Terlihat jelas, bentuk wajahnya yang sangat sempurna. Terbayang akan wajahnya, membuat gairahnya muncul kembali.
4.8K viewsOngoingAdded to Library 115 Times as pouted
Read
+Library
EUFORIA

EUFORIA

“Jangan salah paham, Kiana. Gue masih menganggap lo cantik, kok.” Poni yang menutup matanya kurapikan, kemudian mencopot kacamata gadis ini. Dia agak terkesiap karena tindakanku. “Apalagi kalau lo nggak pakai kacamata. Lo cantik banget.” Dahinya mengerut, sudut bibirnya terangkat dan mulai tertawa pelan. “Kenapa lo ketawa?” “Kamu tiba-tiba jadi romantis gitu, sih.”
1013.5K viewsCompletedAdded to Library 499 Times as pouted
Read
+Library
PESONA

PESONA

"Percikan api yang kau nyalakan belum padam dan aku yang akan memadamkannya dengan caraku." Aku bisa melihat bagaimana bibir tipis itu mulai tersenyum manis dan para tamu bertepuk tangan dan ikut tersenyum saat sepasang insan itu selesai memasang cincin di jari satu sama lain. Semakin Nandin tersenyum bahagia maka semakin besar keinginannya untuk mengubah senyuman itu menjadi tangisan. [][][][][][][][][][][][][][][][]
1016.0K viewsOngoingAdded to Library 335 Times as pouted
Read
+Library
Mistpouffer

Mistpouffer

“Iya, mereka memang melakukan itu. Aku pernah ngelihat Mutia pas dia pakai celana pendek dan yah, aku ngelihat tanda penyatuan jiwa itu di pahanya. Awalnya aku kira itu cuma tatto.” Kini kedua remaja itu hanya bisa bengong. Sirius hanya meringis ketika melihat ekspresi mereka berdua. “Aku kira Namika udah tahu lho, kalau tanda penyatuan jiwanya Mutia itu ada di pahanya.” “Aku bener-bener enggak tahu!” ucap Namika. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan tatapannya kembali ke ponselnya.
1.8K viewsOngoingAdded to Library 64 Times as pouted
Read
+Library
POEDJAN

POEDJAN

Namun peduli setannya lebih besar ketimbang rasa yang sebelumnya sudah dijabarkan oleh logika mereka. “Jangan bicara apa-apa mengenai ini.” “Mati dipancung aku jika iya.” Hebatnya, Mustika tertawa dengan lelucon klasik Amin. Mustika mendongak. Sebetulnya, yang ia lihat selain dagu dengan titik-titik janggut yang keluar dari pori-pori adalah kerutan yang entah mengapa sangat rupawan dilihat dari tempat di mana matanya berada. “Bersedia engkau membantuku mengenai apa yang kulontarkan padamu tadi, Min?”
105.6K viewsOngoingAdded to Library 184 Times as pouted
Read
+Library
PREV
12
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status