Imamku dari Seoul
puji Bi Susan dengan suara lembutnya.
Sabiya jadi malu, dia spontan membalas senyuman Bi Susan yang tulus itu.
Setelah semua barang diangkut oleh Pak Didi, Sabiya dan Idris diberi tahu Shin tentang kamar mereka di rumah ini.
"I'id, kamarmu yang itu, ya," jelas Shin menunjuk ke ruangan yang cukup besar dengan pintu berwarna ungu muda.
Idris hanya mengangguk malas. Namun, semangatnya langsung terisi saat melihat ada sebuah layar komputer besar yang diduga sebagai tempat bermain game. "Woah! Ini bisa untuk main?" tanya Idris antusias.
Hot Chapters