BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR
Dari balik tirai putih yang melambai ditiup angin malam, kudengar suara itu merapal baris-baris puisiku dengan nada penuh perenungan.
"Aku adalah puisi yang hanya bisa dibaca... Namaku: Harga Diri..."
Ia terdiam sejenak, lalu bertanya dengan suara yang selembut sutra, "Apa puisi ini benar-benar dibuat oleh Tuan Muda Mora?"
Aku tersenyum, mencoba mencairkan suasana yang terlalu formal ini. "Panggil saja aku dengan nama depanku. Berbicaralah dengan santai, jangan terlalu kaku begitu!"