Sketsa Hujan
Elang mulai bergumam, menyusun melodi untuk baris-baris tersebut.
Namun, anehnya, meski kata-kata itu milik Aksara, emosi yang ia tuangkan justru bersumber dari sisa-sisa lukanya pada mantan kekasihnya dulu. Ia menggunakan puisi Aksara sebagai kerangka untuk meratapi masa lalunya sendiri.
Ghea, yang baru saja selesai mandi, berdiri di balik pintu kayu yang terbuka sedikit. Ia terpaku mendengarkan suara serak Elang yang menyatu dengan deburan ombak.