Sang Maharaja yang Terlupa
"Ia adalah pengingat bahwa tugasku bukanlah menjaga kemurnian istana, melainkan memeluk segala luka, segala dosa, dan segala kekacauan dari ibu pertiwi hingga semuanya berubah menjadi hutan yang rindang."
Tidak ada sorak sorai "Hidup Maharani" yang membahana memecah langit. Sebagai gantinya, Kirana yang sedari tadi berdiri di samping Larasati, mulai melantunkan sebuah senandung ngidung tanpa kata yang meniru suara desau angin di antara dahan-dahan bambu. Satu per satu, para ibu, para nelayan, para mantan prajurit, dan para tetua dari seberang samudra ikut mengangkat suara mereka, menyatukan ribuan nada yang berbeda menjadi sebuah kidung agung yang bergetar rendah di dasar dada. Angin pagi be
Sikat na Kabanata