Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
Pendekar Kera Sakti

Pendekar Kera Sakti

Bintang-bintang bertengger memancar di langit, seakan anak sekolah yang sedang menikmati jam istirahat. Baraka ikut keluar setelah dia bengong-bengong terus di dalam pondok. Matanya menemukan Payung Cendana sedang berdiri dengan tubuh bersandar pada sebuah pohon berdaun lebat mirip payung itu. Perempuan tersebut memandang ke arah laut, sepertinya sedang menghitung berapa ikan yang tenggelam karena nggak bisa berenang.
1030.6K viewsOngoingAdded to Library 1.0K Times as puisi payung teduh
Read
+Library
PELITA DI TENGAH GELAP

PELITA DI TENGAH GELAP

Cahaya kecilnya memantul di dinding, menari lembut bersama bayangan daun di luar jendela ia menatapnya lama, lalu mengambil buku hariannya dan menulis satu halaman terakhir, “Kami sudah melewati hujan, badai, dan malam yang panjang. Tapi dari semua itu, aku belajar satu hal, pelita yang paling kuat bukan yang paling terang, melainkan yang tetap menyala bahkan ketika angin mencoba memadamkannya. Dion aku janji, pelita ini akan terus ada. Untukku, untuk Dinda, dan untuk siapa pun yang percaya bahwa kejujuran masih punya tempat di dunia.”
825 viewsCompletedAdded to Library 29 Times as puisi payung teduh
Read
+Library
Penguasa Hati

Penguasa Hati

Gemuruhnya adalah musik latar dari keputusasaan ku. Aku tidak punya payung. Tentu saja tidak. Payung adalah kemewahan kecil yang tidak masuk dalam daftar prioritas ‘bertahan hidup’ milikku. Aku berdiri di bawah kanopi, memeluk buku-buku ku lebih erat seolah benda mati itu bisa melindungi ku. Sisa-sisa ketakutan dari malam sebelumnya masih menempel di kulitku seperti embun dingin.
103.6K viewsCompletedAdded to Library 86 Times as puisi payung teduh
Read
+Library
Jeruji Tanah Anarki

Jeruji Tanah Anarki

“Dedaunanku menari Iringi senandung nabastala Cerah berpendar Sebiru gagang pedangmu Lukaku merona Pancar penuh tawa Atas kabar bersambutnya rasa Dersik pembawa bahagia Katamu akulah sahmura Pendar mewangi helai mahkota Kataku akulah akara Pendar meluruh tiap amerta Sejuk dersik sarayu Simpul terukir kehadiratmu Indah irama jantung bertalu Tuan, nada ini untukmu.” Usai membaca puisi, Shaw mengusap tengkuk. “Aaa ... aku tidak begitu memahami puisinya.” “Tapi puisinya bagus. Kira-kira siapa penulis puisi itu?” Jari telunjuk Bailey mengetuk-ngetuk dagu, otaknya berpikir.
1010.0K viewsOngoingAdded to Library 338 Times as puisi payung teduh
Read
+Library
Alisya

Alisya

Semaksimalnya untuk hasil terbaik. Denganmu, kami bisa melihat Dengan adamu, kami bisa membaca Dengan hadirmu, kami bisa berjuang Dengan sapaanmu, kami terhindar dari kegelapan LAMPU Puisi yang ditulis Aiys di rangkaian yang ia gambar. "TEEEEEEEETTTTTTT," bunyi bel dengan menandakan telah usai sesi dua. Juna, Aiys, dan Tasya segera mengangkat tangan dan kemudian mengemas barang-barang mereka. Sebelum beranjak mereka sempatkan berfoto dulu dan memfoto hasil karyanya.
3.3K viewsOngoingAdded to Library 90 Times as puisi payung teduh
Read
+Library
Syair Singgasana 1 : Prahara Di Balik Kabut

Syair Singgasana 1 : Prahara Di Balik Kabut

Pria tua itu bersujud di depan batu bertulis itu dengan ribuan emosi yang sepertinya tak mampu dijelaskan oleh riuhnya hujan deras dan derunya angin kencang malam itu. SELESAI *************************************************************************************************************** NAMUN PERANG TAK AKAN PERNAH USAI. SAMPAI JUMPA DI SYAIR SINGGASANA JILID 2
1015.2K viewsCompletedAdded to Library 607 Times as puisi payung teduh
Show Reviews (6)
Read
+Library
fatekhatur rohmah
Temponya emang gak terlalu cepat, pelan tapi udah ada kejutan di bab-bab awal dan bikin penasaran. Dialognya bagus dan penulis bener2 pas ngasih momen yang bikin aku kaget alias ga buru-buru. Masih belum bisa ditebak tokoh jagoannya yh mana nih, plis deh yg kayak gini jangan cepet2 tamat
Rizki Ansyari
Dunia dibalik kabut adalah refleksi dunia awam sesungguhnya, dimana semua ego, intrik, pengkhianatan akan selalu ada. Penulis mempu membukus kisah ini dengan begitu rapi tapi juga memainkan emosi pembaca. Kereeenn
Read All Reviews
Payung Yang Jebol

Payung Yang Jebol

Matanya nanar memandang seputar sambil mulutnya komat-kamit. “Ayo, baca puisi mbelingmu lagi!” teriak seseorang tidak sabar. Jegag-jegug baungan kidul ratan Jer sekar setaman nyi randa kalpika Jugrug ketaman wiriding alif Jaganana tha, nyai Jangkepe manungsa nora bandha donya Jeneh sira amemundhi memedi Jayanen kautaman Jatining janma amung wenang amarsudi
1.6K viewsOngoingAdded to Library 58 Times as puisi payung teduh
Read
+Library
Bidan Mima

Bidan Mima

Radio yang diputar, menyajikan lagu Payung Teduh berjudul Akad. Betapa bahagianya hatiku saat Ku duduk berdua denganmu Berjalan bersamamu Menarilah denganku Namun bila hari ini adalah yang terakhir Namun ku tetap bahagia Selalu kusyukuri Begitulah adanya Namun bila kau ingin sendiri Cepat cepatlah sampaikan kepadaku Agar ku tak berharap Dan buat kau bersedih
4.5K viewsOngoingAdded to Library 129 Times as puisi payung teduh
Read
+Library
Cinta Sang Preman

Cinta Sang Preman

*** Rasa Aku berkelana melewati rimba aksara, menembus lebatnya kata Aku berenang dalam kubangan gelap dan terangnya pikiran Mencari rasa yang sepat singgah pada manik jiwa Terbang mengikut angin berhembus sampai akhirnya leyap pada batas nyata Luka hanyalah setitik duka yang tersirat dalam kisah semesta Aku pun pergi pada cinta, kuiklaskan diri dalam rengkuhnya Cumbuannya membangkitkan gelora hasrat jiwa, hadirkan selaksa bahagia ** Jadi lagi satu puisi, coba up lagi di medsos. Siap dikritik, daripada harus diam menunggu kabar dari manusia yang mulai menghilang dari peredarannya. [Ta,] Kenzo mengirim pesan [Uyy, dapa, Ken?] [Sibuk 'gak?] [Gak, kenapa?]
104.2K viewsOngoingAdded to Library 168 Times as puisi payung teduh
Read
+Library
Ujung Senja

Ujung Senja

“Kemana perginya hati. Kemana hilangnya rasa. Engkau kan menghilang diri, Sayang, untuk insan yang kau puja. Kutakkan berkecil hati. Kutakkan rasa kecewa. Walaupun perih pilu di hati. Kau kuiring senyum mesra. Ingatlah, kau, duhai Jelita, hati ini untukmu saja. Dhai kasih, sanjungan kalbu, engkau pergi tanpa relaku. Hatiku kau curi kini, kau bawa pergi bersama. Kering kini taman sanubari, tiada lagi senyum indah.”
108.4K viewsCompletedAdded to Library 193 Times as puisi payung teduh
Read
+Library
PREV
1
...
34567
...
10
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status