TERLAHIR KEMBALI UNTUK MENGUBAH TAKDIR
Ia menembus keramaian, memfokuskan pandangan hanya pada satu tujuan: pintu perpustakaan.
Saat ia mendorong pintu besar itu, suara berderit lembut terdengar. Aroma khas kertas tua, tinta, dan debu menyeruak. Perpustakaan itu luas, dengan deretan rak-rak tinggi menjulang, jendela besar yang memancarkan cahaya emas matahari sore, dan suasana hening yang dijaga oleh lirih bisikan serta langkah hati-hati mahasiswa. Namun semua keindahan itu terasa palsu bagi Arga. Terlalu damai, terlalu rapuh, seperti panggung sandiwara yang menunggu runtuh.
Hot Chapters