Ada rasa yang mengendap di sudut hati,
seperti kopi pahit yang tak lagi diminum berdua.
Kau berjalan dengan angkuh di atas puisi-puisiku,
seolah deretan kata hanyalah debu.
Aku menulis tentang langit yang biru untukmu,
tapi kau lebih sibuk menghitung awan yang lewat.
Bahkan tanganku yang menggapai,
lebih sering kau lihat sebagai bayangan,
bukan sebagai peluk yang menunggu.
Mungkin cinta memang harus pergi,
agar puisiku bisa bernapas lega,
menjadi sakit hati yang akhirnya sembuh sendiri.