Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
Istri Galaknya Om CEO

Istri Galaknya Om CEO

(Ciara) "Kenapa tidak bisa? Sayangku, senja sekedar memberi canda candu, tapi aku bisa memberimu nada madu. Lebih manis, bukan?" (Haidar) "Warna senja memang menyiratkan betapa indahnya dirimu." (Ciara) "Apakah tampanku akan hilang tatkala senja itu mengerang?" (Haidar) "Tampanmu hanya akan memudar, tatkala kamu tak bisa membedakan mana senja, mana mentari." (Ciara)
104.9K viewsCompletedAdded to Library 189 Times as puisi senja 4 bait
Show Reviews (45)
Read
+Library
Laras_7779
Nurilhuda, Syamsiddhuha, Badridduja, kembar tiganya Abi Ibu yang pengen aku bawa pulang. Kakak Uda pinter bikin salting, Abang Uha vibesnya bawa ketenangan, Adik Uja si paling nggemesin sedunia. Lengkap deh kalian ini
Arsyi An
Cinta banget baca novelnya Kak Azizah. Dewasanya Haidar menggemaskan, ia menasihati, tapi juga intropeksi. Part favoritku: Wanita itu rumah untuk lelakinya. Rumah akan rapi jika yang punya peduli, rumah akan nyaman jika yang punya beriman, rumah akan terang jika yang punya tak lupa kasih sayang
Read All Reviews
Sebening Senja

Sebening Senja

Hanya di kamar ini ia bisa menunjukkan sebenar-benar dirinya, tanpa seorang pun tahu yang ia pikirkan bahkan rasakan. Jalinan air dan bumi, semakin merapat hingga tak ada celah untuk tak membasahi setiap benda yang terusap. Hadirnya selalu mampu memaksa Senja mengingat jejak lapuk yang kusut namun sulit untuk surut. Selalu ia nikmati meski pahit, selalu nagih seperti kopi dalam gelas gelatik yang ia genggam. Bersama tegukan dari bibirnya mengalir rindu menyesap hingga ke hati. "Senja, hujan." Bibir itu bergetar menahan dingin. Ia melipat tangan di depan dada seraya mendekap jaket yang terlihat lebih besar dari ukuran badannya.
2.9K viewsOngoingAdded to Library 99 Times as puisi senja 4 bait
Read
+Library
Diary Yang Basah

Diary Yang Basah

“Jingga di ujung senja// Jingga di ujung senja/ bersinar semakin redup/ Memudar berganti malam yang turun seperti kabut// Dalam penantian senja yang tak tahu/ Apakah ada ujungnya// Di atas cakrawala/ Jingga di ujung senja/ Melupakan kisah di ujung senja//” Tidak beberapa lama Resti lihat di stori Whatssapp, Rikka bikin status , “Puitis!” Resti tertawa puas. Resti tahu bahwa Rikka membalas status Resti di f******k dan membuat story di Whatssapp.
108.5K viewsOngoingAdded to Library 280 Times as puisi senja 4 bait
Read
+Library
Mengandung Bayi Presdir Dingin

Mengandung Bayi Presdir Dingin

Oleh karena itu, mereka tidak hanya perlu mengingat puisi yang diperlukan dari ingatan, tetapi mereka juga harus memperhatikan syair mana yang telah disebutkan oleh lawan mereka. Senja mungkin tidak memiliki cadangan puisi yang sebanding dengan Christopher dan yang lainnya, tapi dia memiliki teknik ingatannya sendiri. Saat dibutuhkan, ia dapat dengan cepat mengambil bait-bait yang relevan. Melirik ke papan pertanyaan, Senja sampai pada angka delapan. "Delapan ekor kuda Raja Mu tak kenal lelah berpacu, berkelana ke negeri seberang untuk mencari matahari dan bulan yang abadi."
2.9K viewsCompletedAdded to Library 79 Times as puisi senja 4 bait
Read
+Library
Lebih dari selamanya

Lebih dari selamanya

Siapa gerangan yang berhak bersanding denganmu? Aku hanyalah Senja yang selalu takut mendekatimu... Berharap ketika kau membenciku... Pantaskah aku memperjuangkanmu? Puisi sang Senja yang sedang merindu. Ia tulis di sebuah kertas dengan pena pemberian raja sewaktu ia mengikuti sayembara puisi untuk sang putri. Ia sangat dekat dengan raja tapi tidak tahu maksud kedekatan itu karena memiliki perasaan dengan sang putri. Sayembara itu hanyalah hadiah berupa uang bagi rakyat jelata sepertinya. Ibunya menjadi dayang. Ayahnya menjadi Prajurit. Sedangkan dirinya hanya bisa membantu kedua orang tuanya jika ada bantuan. Kalau ditanya hobi, ia memiliki hobi memandang sang putri. Sementara cita-citanya
105.1K viewsOngoingAdded to Library 154 Times as puisi senja 4 bait
Read
+Library
Istri Nakal Mas Petani

Istri Nakal Mas Petani

Di suatu senja, di musim yang lalu Ketika itu hujan rintik Terpukau aku menatap wajahmu Di remang cahaya sinar pelangi Lalu engkau tersenyum, ku menyesali diri Tak tahu apakah arti senyummu (Widuri – Bob Tutupoly)
10818.4K viewsCompletedAdded to Library 32.7K Times as puisi senja 4 bait
Show Reviews (334)
Read
+Library
Amoy82
Dari semua novel yg kubaca di platform ini, karya ini adalah karya terbaik. Mulai dari judul yg memberikan makna lain. sampai isi. Jangan tanya soal tata bahasa, begitu rapi dan memerhatikan rima. Deskripsi suasana yang begitu rinci, membuat pembaca khususnya saya, menikmati dan merasa berada disana
q_ya
dulu pertama liat judul nya ga begitu tertarik, tapi setelah bingung baca karya njus yang mana lagi akhirnya aku bacalah..dan ternyata malah jatuh cinta yang kedua ... setelah yang pertama sama pak Roy..... tapi bukan berarti saya ga suka tokoh lain ka jus.. semuanya saya suka tp fav Om Roy&mas wir
Read All Reviews
Jangan Sesali Kepergianku

Jangan Sesali Kepergianku

Aroma yang pertama kali kucium adalah aroma bodywash dan parfum segar yang menguar dari tubuh Javran, dan sentuhan yang pertama kali kurasakan adalah tangan hangat Javran yang membelai pipiku. “Good morning, Sayang,” sapanya, mengulas senyum secerah matahari pagi. “Gimana tidurmu tadi malam?” Javran meraih tanganku dan membantuku duduk. Dia menaruh sebuah cangkir ke tanganku. Isinya adalah cairan berwarna kecokelatan—dengan bau yang asam dan menyengat.
102.7K viewsOngoingAdded to Library 65 Times as puisi senja 4 bait
Read
+Library
Meniti Ulang di Usia Senja

Meniti Ulang di Usia Senja

Setelah puluhan tahun menikah, mungkin hanya dengan melihat kebenaran yang menyakitkan ini dengan mata kepala sendiri, aku bisa benar-benar mengikhlaskannya. Saat turun dari mobil, cuaca mendung, pertanda akan datangnya hujan badai. Dengan cemas, aku berjalan menuju pintu masuk toko. Melalui jendela, aku melihat Sandi di dalam, duduk di sofa dengan mengenakan pakaian pernikahan tradisional.
10.0K viewsCompletedAdded to Library 391 Times as puisi senja 4 bait
Read
+Library
Hati Sang Bayangan

Hati Sang Bayangan

Sebuah senyuman miring penuh kelicikan pun muncul di wajahnya. “Biarkan dia tetap seperti itu. Kita akan menyiksanya perlahan sampai mereka datang. Jangan biarkan dia mati lebih dulu,” jawaban kejam itu dibalas oleh anggukan keras tanda setuju. Helena─sandera yang tubuhnya sudah terkulai lemah itu hanya mendengarkan dengan rasa sakit di dadanya. Dia ingin menangis begitu kencang. Namun matanya sudah sangat lelah mengeluarkan air mata. Dia berharap ini segera berakhir walau dia tidak tahu apakah dirinya akan tetap hidup atau tidak.
804 viewsOngoingAdded to Library 19 Times as puisi senja 4 bait
Read
+Library
PREV
1
...
5678910
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status