Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Pelangi atau Senja

Pelangi atau Senja

Entah apa yang telah terjadi, perasaan untuk berhenti dan mengundurkan diri sering datang akhir-akhir ini, kadang merasa sulit, kadang tidak tenang, kadang merasa bersalah dan perasaan buruk lainnya yang mengganggu dan mengusikku. Sore itu cuaca terlihat, dengan cepat aku menyelesaikan pekerjaanku, ingin rasanya cepat pulang lalu pergi ke pantai untuk menikmati senja, senja yang selalu kurindukan sejak pertama aku menginjakkan kakiku di tempat ini, di mana aku bisa menikmati kesendirianku tanpa seorang pun
2.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 57 kali sebagai puisi senja 4 bait
Baca
+Pustaka
Kemilau Senja

Kemilau Senja

sahutku singkat sembari menarik napasku perlahan, pelukan erat ini mampu membuatku sulit bernapas lega. "Seharian tidak bertemu kamu, kenapa hal itu membuat aku rindu sama senyuman kamu ya, Dini," ucapnya lembut, ia membisikkan kata-kata itu tepat di telingaku. Rasanya merinding seluruh tubuhku, seakan seperti mimpi.
1010.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 412 kali sebagai puisi senja 4 bait
Baca
+Pustaka
Alstroemeria

Alstroemeria

"Saat jumpa pertama engkau beri hatimu relungnya rona pagi cerah musim semi Saat jumpa kembali engkau sampaikan seuntai kata baranya laksana musim panas tak terlukiskan Ketiga kalinya engkau beri tanganmu dalamnya tersembunyi musim rontok daun berguguran Terakhir kalinya berjumpa lewat mimpi singkatku dalam mimpi terdapat gumpalan angin musim dingin." Ah mengapa panjang sekali? Mengapa puisi ini sangat aneh? berakhir dengan musim-musim dan musim, tapi tunggu...
1015.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 327 kali sebagai puisi senja 4 bait
Baca
+Pustaka
Superhero, Inc. (Bahasa Indonesia)

Superhero, Inc. (Bahasa Indonesia)

Di sana terselip kertas yang tertulis puisi buatanku. “Buat?” kejar Four. “Ya, buat kamu,” jawabku sambil siap-siap membacakan puisi cinta. Four tampak super bingung. Aku menarik nafas sejenak, lalu mulai membaca bait pertama. “Wajahmu bersinar bagai rembulan.” Demi mendengarnya, Four langsung meraih ember di dekatnya, lalu muntah hebat.
1012.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 331 kali sebagai puisi senja 4 bait
Baca
+Pustaka
CINCIN TAK BERTUAN

CINCIN TAK BERTUAN

Malam semakin larut Dingin menyentuh kulit Ingin rasanya hati menjerit Sembari memandangi burung yang terbang di langit Bintang bertebaran tiada dapat dihitung Sungguh kita sangat beruntung Akan keindahan malam nan sepi Memberikan kenikmatan cahaya manjakan mata ini Dua bait saja sudah membuat perasaan plong. Coretan kecil mampu hilangkan kejenuhan. Tak lama daun pintu kamar diketuk. Dina memanggilku agar membukakan pintu. Berdiri dan bersegera membukanya.
108.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 194 kali sebagai puisi senja 4 bait
Baca
+Pustaka
Di Ujung Senja

Di Ujung Senja

"Aku juga sudah nggak mau benci kamu lagi, nggak ada gunanya. Biarin semuanya berakhir dan kembali menjadi debu." Kebencian adalah hal yang sangat menguras tenaga dan energi, pria ini sudah tidak layak mendapatkan perhatianku sedikit pun. Andi menatapku rumit. Dia terdiam sambil mengambil kapas lidi yang sudah dibasahi air untuk mengolesi bibirku yang kering, matanya perlahan mulai memerah. "Cintaya, kamu bakal sembuh kok. Tolong, kamu harus benci aku sekuat tenaga dan balas dendam sama aku, nanti kamu boleh lakuin apa pun yang kamu mau, oke?"
12.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 429 kali sebagai puisi senja 4 bait
Baca
+Pustaka
Luka di Ujung Senja

Luka di Ujung Senja

Tentang cinta yang tidak menuntut pengorbanan diri. Ia menulis juga tentang batas—bagaimana batas bukan dinding, tapi pintu yang bisa dibuka dan ditutup dengan kesadaran. Ketika ia selesai, ia tidak merasa lega besar. Ia merasa selesai untuk hari itu. Dan itu cukup. Di kamar, Rendra sudah tertidur. Rafa mengigau kecil, lalu kembali tenang. Anggi berbaring, merasakan berat selimut, suara malam, detak jam yang stabil.
1.7K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 41 kali sebagai puisi senja 4 bait
Baca
+Pustaka
Rimba Memburu Senala

Rimba Memburu Senala

Saat dibacakan lantang di puncak Menara Pelintas Senyap, getaran halus menyelimuti seluruh lembah. Puisi: “Retakan yang Mendengar” Aku bukan suara, Aku luka yang berjalan, Tidak menuju akhir—tapi ke awal yang ditolak. Jika engkau dengar namamu dari pasir, Jangan jawab—itu hanya bayang yang belum melupakanmu. Maka, retaklah wahai batu! Buka mulutmu untuk segala yang tak pernah sempat dikatakan!
101.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 42 kali sebagai puisi senja 4 bait
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
45678
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status