Rayuan Maut Para Tetanggaku
Aku duduk di meja kayu kecil bersama Kakek dan Nenek, mencoba menelan nasi merah yang mendadak terasa hambar di tenggorokan.
"Sari kenapa, Kek? Tadi Nenek panggil katanya pusing," tanya Nenek sambil menuangkan air ke gelas kaleng.
Kakek melirikku sekilas, tatapannya tajam namun datar. "Mungkin kecapean, tadi habis bantu Mas ini pakai ramuan. Biarkan saja istirahat."
Aku hanya menunduk, pura-pura fokus pada butiran nasi. Rasa bersalah mulai muncul, tapi gairah yang sempat memuncak tadi siang tidak hilang begitu saja.