Pagi Baru Tanpa Dirimu
Saat kandunganku memasuki bulan kelima, Dion Sudarma sudah empat bulan berturut-turut tidak pernah menemaniku kontrol kehamilan karena cinta sejatinya yang belum bisa dia lupakan.
Bahkan hingga pemeriksaan yang kelima, dia tetap mengingkari janjinya.
Suaranya terdengar dingin dan penuh kekesalan dari balik telepon. "Anak itu bukan cuma tanggung jawabku. Kamu ibunya, jadi wajar kalau kamu yang lebih banyak berkorban. Memangnya kalau aku nggak ada, dia bakal mati?"
Aku tidak menjawab. Pandanganku tertuju pada layar di rumah sakit yang sedang menayangkan dirinya tersenyum begitu lembut kepada Vivian Janitra.
Aku hanya menggumam pelan. "Hm."
Sepertinya Dion menyadari ada yang tidak beres dengan suasana hatiku. Saat dia hendak mengatakan sesuatu lagi, aku sudah lebih dulu menutup telepon.
Tak lama kemudian, para perawat yang sedang membicarakan berita tentang Dion yang menghabiskan banyak uang untuk mengadakan pesta kembang api bagi cinta sejatinya akhirnya selesai mengobrol. Salah seorang dari mereka menghampiriku.
"Nona, untuk pemeriksaan kehamilan silakan ke arah sini."
Aku menggeleng. "Nggak perlu. Tolong jadwalkan operasi aborsi untukku seminggu dari sekarang."