Seribu Pintu Sindukala
“Mereka enggak tahu kalau Ibu—”
“Hari ini Ibu mau menyelesaikan beberapa lukisan,” sela Marsala, tenang dan ringan. “Jangan ngomong yang enggak-enggak.”
“Siap, Bu.”
Mereka saling berpandangan. Perlahan-lahan, musik yang mereka dengarkan menggema jauh, dan ruang dapur menjadi terlalu terang, bergerak-gerak pelan, membesar sekaligus mengecil. Mata Marsala bergerak ke kanan, terfokus pada sesuatu di belakang bahu Raesaka, sedangkan Raesaka memandang lurus ke luar jendela yang ada di belakang ibunya. Keduanya terputus dari dunia di sekitarnya yang memburam, melompat ke masa lalu yang mereka alami, yang tiba-tiba tergambarkan kembali dalam benaknya masing-masing. Pada satu momen, mereka menant
Hot Chapters