Jangan Baca Novel Ini!
Ternyata aku sudah lebih dulu basah melihat betapa tampan dan maskulinnya dosenku sendiri.
Argghh, aku kudu cepat-cepat menulisnya, apalagi novel biasanya baru naik kalau umurnya dua minggu.
Jari-jariku langsung menari di atas keyboard laptop dengan kecepatan yang mungkin bisa menyaingi kecepatan cahaya, menyalin setiap detail adegan panas yang baru saja aku saksikan secara live dari balik lubang dinding.
Biasanya, aku butuh waktu berhari-hari untuk menyelesaikan satu bab karena harus memeras otak mencari inspirasi khayalan yang masuk akal.