Daster Buat Istriku
“Ya, aku akan berusaha lebih sabar. Nanti aku akan bicara dengannya. Sekarang kita pulang saja!”
“Baik.”
Asya lalu menyalakan mesin mobil. Itu berbarengan dengan suara ketukan di kaca mobil, tepat di jok tengah. Sontak kami semua menoleh ke sana.
“Ninda …!” geramku emosi lagi saat melihat sesosok perempuan yang seluruh tubuh bahkan kepalanya penuh sampah dan lumpur.
“Bang Bara …. jangan tinggalin aku di sini, Bang! Tolong aku, Bang …!” Ninda menghiba sambil terus mengetuk kaca jendela.