18 Kali Janji, Tak Sekali Terwujud
Imelda terdiam sejenak, sebelum mengajukan pertanyaan itu melalui telepon.
Pertanyaan itu membuat orang di ujung telepon ikut terdiam. Seringkali, keheningan adalah jawaban yang paling jelas.
"Aku mengerti, Kak Andy." Suara Imelda terdengar getir. "Sejak aku jadi mentor Deon, kayaknya aku nggak pernah lagi menikmati makan malam yang tenang bersama Miko. Aku seakan nggak pernah lagi merayakan hari raya bersamanya. Bahkan, kado yang kuberikan untuknya juga cuma kupilih secara asal-asalan. Banyak di antaranya yang bahkan sama persis. Barusan aku menghitungnya sendiri. Selama tiga tahun ini, kayaknya aku sudah batalkan janji untuk mendaftarkan pernikahan dengan Miko sebanyak lebih dari sepuluh k