Kinari dan Benang Waktu
Satu per satu, serpihan itu saling mendekat, bukan karena ia menariknya, melainkan karena ia tidak lagi berusaha.
Saat matanya terbuka kembali, huruf-huruf itu telah tersusun di hadapannya, membentuk sebuah kata tunggal—tidak di udara, tidak di tanah.
Melainkan di dalam hatinya, bergetar seperti gema yang telah lama menunggu untuk diucapkan.
Kata itu terasa rapuh, seperti rahasia yang bisa pecah jika dilafalkan dengan nada yang salah.
Ia belum sepenuhnya yakin, tetapi naluri di dalam darahnya berkata: inilah kunci.
Bab Populer