Antara Cinta dan Luka
Nasi campur dengan ayam suwir, sate lilit yang masih mengepul, telur mata sapi dengan kuning telur menggoda, sambal matah pedas, dan pisang goreng renyah.
Ratna—masih lemah, kursi roda kayu jati dengan bantal batik—tersenyum lebar, tangan gemetar memegang sendok perak. Rambutnya sudah panjang lagi, hitam legam tergerai sampai bahu, wajahnya mulai berisi setelah dua minggu sadar dari koma 15 tahun.
“Mama nggak nyangka hidup lagi…” suaranya serak tapi penuh syukur, matanya berkaca menatap sawah. “Sekarang syuting N*****x. Kayak mimpi yang nggak mau bangun.”