DI BALIK LAMPU IBUKOTA
"Biasanya itu anak kalau lewat selalu nengok atau minimal nyapa. Tadi? Dia jalan kayak liat setan."
Juna membuka mulutnya, rahangnya bergeser sedikit, lalu menutup.
Nara tertawa lirih, ia menyalakan pemantik gasnya sekali hentakan, asap pertama mengepul di antara mereka, lalu kembali menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi plastik.
Lampu pijar kuning lima watt di langit-langit koridor lantai dua bergoyang pelan ditiup angin malam. Sebagian besar pintu kamar terkunci rapat dari dalam.