Ajari Aku Salat
Zahra tersenyum sinis.
“Ayah? Kamu di mana saat kami terlunta-lunta, kamu ada di mana saat dia menangis memanggil papanya, kamu di mana, saat seluruh dunia membencinya? Bahkan karena dia kau menceraikanku, karena keistimewaannya. Kau sangat picik kalau kau mau tahu. Sekarang keluar! keluar aku bilang! Aku bukan Zahra yang dulu lugu dan pendiam. Engkau yang buatku berani menantang hidup.” Raehan ternganga. Zahranya sudah menjadi beringas. Dia tidak selembut dulu. Dia sudah menjelma menjadi wanita garang yang sanggup meremukkan tulang-tulang iga siapa pun jika mengganggunya.
“Mari kita bicara. Tujuan aku ke mari juga ingin bicara, bukan bertengkar lagi,” ucap Raehan.
Hot Chapters