Bersama Tanpa Terpaksa
Keenan mendengkus, mengumpat dalam hati, menenangkan diri kalau itu bukan salahnya tetapi salah Zia yang memakai pakaian terbuka tetapi malah banyak tingkah menaikkan badannya ke atas meja kasir.
"Maaf, Mbak, tolong sopan sedikit!" Keenan menegakkan tubuhnya, berusaha bersikap biasa. Ia tidak mau dicap culun karena gugup melihat belahan wanita depan belakang, tapi ia juga tidak mau dicap kurang ajar.
"Okay." Zia yang saat itu belum Keenan ketahui namanya berdiri tegak, pandangannya lurus memperhatikan Keenan, beberapa kali matanya bergerak naik turun dengan bibir terbuka sedikit, terlihat sensual.
Sikat na Kabanata