Darah dan Takdir
Dinding-dinding berukir megah kini ternoda darah, tapak kaki berlumpur mengotori karpet merah yang dulunya hanya diinjak oleh kaum bangsawan.
Ketika mereka tiba di depan pintu besar ruang singgasana, dua prajurit kerajaan yang tersisa mencoba menghalangi jalan mereka. Saraswati tidak berpikir dua kali—ia melompat ke depan, menangkis serangan pedang pertama, lalu berputar dengan lincah dan menghantam leher lawannya dengan gagang pedangnya. Prajurit itu terjatuh, dan dalam sekejap, Raksa sudah menebas lawan yang satunya. Mereka mendorong pintu besar ruang singgasana dengan kekuatan penuh. Daun pintu terbuka dengan bunyi berderak keras, memperlihatkan ruangan yang selama ini menjadi pusat kekua
Hot Chapters