Tiga Mayat Satu Takdir
Laila mengisyaratkan rasa ingin tahu dengan gerakan tangan cepat, sementara Sophia duduk di sudut, lendir bening di tangannya bergetar pelan, matanya cokelat besar penuh kewaspadaan.
“Mereka takut dunia luar,” gumam Kael, suaranya rendah sambil menatap jendela yang tertutup rapat. “Tapi Aldos percaya mereka—kita tidur bergiliran malam ini.” Mereka mengatur jadwal dengan cepat—Kael dan Sarah ambil giliran pertama, lalu Murphy dan Laila, terakhir Sophia. Malam berlalu dalam sunyi yang tegang, hanya sesekali terdengar langkah warga di luar, bayang mereka bergerak di bawah cahaya bulan seperti penjaga yang tak pernah istirahat. Tidur mereka lena tapi ringan, tangan selalu dekat senjata, mimpi me
Hot Chapters