Aku nggak bisa lupa bagaimana 'Pulang' merajut konflik itu dengan halus hingga bikin dada sesak; ceritanya bukan tentang satu bentrokan besar, tapi tentang puluhan luka kecil yang saling berhubungan.
Di satu sisi, ada konflik politik yang terasa luas dan berat — pengkhianatan, pengasingan, dan ketakutan yang menekan kehidupan sehari-hari. Tokoh-tokoh dalam 'Pulang' hidup di antara berita yang tersisa dan bisik-bisik sejarah yang tak pernah selesai. Mereka membawa bekas-bekas keberanian yang tersisa setelah peristiwa besar, namun juga membawa kebisuan karena takut membuka luka lama. Konflik ini bukan sekadar bentrokan antara pemerintah dan rakyat; ia menempel di relasi keluarga, di percakapan yang berhenti di tengah, di cinta yang tak sempat diucapkan.
Di lapisan lain, ada konflik personal yang lebih halus tapi tajam: identitas, rasa bersalah, dan kerinduan. Karakter yang kembali atau yang menunggu pulang dihadapkan pada dilema antara mengatakan kebenaran atau melindungi orang yang mereka cintai. Keputusan kecil—menyimpan surat, mengubah cerita pada anak, menolak mengungkapkan masa lalu—menjadi medan konflik emosional. Itu membuat novel terasa bukan hanya sebagai kronik sejarah, tetapi juga studi karakter yang intens.
Menurutku, kekuatan konflik di 'Pulang' adalah bagaimana politik dan personal saling memperkuat. Ketika sejarah menuntut bayaran, hubungan keluarga harus menanggungnya; ketika seseorang mencoba melupakan, memori orang lain memaksa pengakuan. Itu membuat alur terasa seperti rentetan ketegangan yang tak pernah meledak secara spektakuler, tapi terus menggerogoti sampai pembaca merasakan getarnya. Endingnya pun tidak semata solusi dramatis, melainkan sebuah titik di mana luka dan harap berbaur—menyatukan konflik besar dan kecil menjadi satu napas yang getir namun manusiawi.