Imperfect Love
“Nanti kalau kamu sudah selesai, baru aku bayar. Mau langsung lunas hari itu juga, aku nggak masalah.”
“Eh? Serius dianggap utang?” Senyum tipis Yasmen mengembang di wajahnya. Hanya dengan membayangkannya saja, darah Yasmen bisa berdesir hebat. Kalau begini, Yasmen jadi tidak keberatan untuk memberi kesenangan lagi pada sang suami karena bayarannya nanti juga akan setimpal. “Aku catet, lho, ya! Biar nggak ada yang kelewat!”