Pembalasan Sang Dokter Jenius
“Nih, ini monster andalan kita. Sudah bisa pakainya, kan? Tinggal pencet-pencet saja, sih. Pilih mau Espresso, Latte, atau Americano. Gampang.”
Joko menatap mesin canggih itu dengan tatapan ngeri. Puluhan tombol, lampu-lampu yang berkedip, dan wadah-wadah aneh. Benda itu terlihat lebih rumit daripada mesin traktor di desanya. Ia sama sekali tidak tahu harus mulai dari mana.
Melihat ekspresi bingung di wajah Joko, Adam tertawa. “Belum pernah pakai, ya? Santai. Wajar. Gue juga pertama kali lihat benda ini bingung.”