Pelayan Sang Tuan
Menarik pinggang Sesil dengan posesif dan mendaratkan satu kecupan di ujung kepala sang istri saat berkata, “Ya, tetaplah menjadi Sesil yang baik dan patuh. Dan, akulah pria pertama yang menyentuhmu dan aku melakukannya setelah kita menikah.”
Wajah Sesil memerah, menyodok perut Saga dengan sikunya.
“Kita pergi sekarang.” Saga menarik sang istri melewati Dirga.
Dirga segera menahan lengan Sesil. Rautnya berubah dingin saat bertanya, “Dia menghamilimu lagi?”
“Itu bukan urusanmu, Dirga,” geram Saga.
Sesil mendesah panjang. “Kenapa kalian selalu menyalahkan kami. Bukankah kami hamil atas perbuatan kalian?”