Setiap kali aku menyanyikan 'Tak Terbatas Kuasamu', ada getar yang membuat segala kecemasan mendadak terasa lebih ringan.
Lirik lagu itu, buatku, adalah pengingat sederhana tapi mendalam tentang siapa Tuhan menurut iman Kristen: bukan hanya entitas jauh dengan kekuatan besar, tapi Pribadi yang kuasanya melampaui batas-batas yang kita pasang sendiri—batas waktu, batas luka, batas harapan. Ketika lagu menyebutkan kuasa-Nya yang tak terbatas, aku membayangkan dua hal sekaligus: pertama, kuasa sebagai kapasitas untuk mencipta dan mengatur alam semesta—sesuatu yang mengatasi logika manusia; kedua, kuasa sebagai kemampuan untuk masuk ke ruang paling rapuh dalam hidupku—menghibur, menyembuhkan, dan membebaskan. Untukku itu bukan sekadar konsep teologis, tapi pengalaman: waktu aku panik menghadapi masalah keluarga atau takut pada masa depan, menyanyikan lagu ini jadi seperti mengarahkan pandangan ke arah yang lebih besar daripada kecemasan tadi.
Yang menarik, liriknya juga mengajak respons, bukan cuma kekaguman pasif. Ada nuansa menyerahkan diri dan percaya, bukan menuntut solusi instan. Itu mengubah cara aku berdoa: dari daftar harapan ke percakapan yang memberi ruang untuk kebenaran—bahwa ada kuasa yang bekerja, kadang lewat jalan yang tak kusangka. Lagu ini juga menantang untuk hidup berani; kalau kuasa-Nya memang tak terbatas, artinya kasih dan pemulihan-Nya juga bisa menjangkau situasi yang kita kira sudah final. Jadi setiap kali akhir malam aku menutup mata sambil menyanyikan bagian itu, aku merasa lebih lega dan lebih siap melangkah, bukan karena semua masalah hilang, tetapi karena ada alasan kuat untuk berharap lagi.