SUJUD TERAKHIR EMAK
“Aku takut, Ta. Takut kalau aku pergi, dia kenapa-kenapa.”
Sita memandangnya lekat-lekat, lalu menarik napas panjang. Wajahnya menunjukkan keraguan sesaat, tapi kemudian ia menguatkan hati. “Mas…” suaranya lembut, penuh keyakinan. “Bagaimana kalau Farhan di rumah saya saja sementara Mas bekerja? Nanti kalau Mas pulang, baru dijemput lagi.”
Arman sontak menoleh, matanya membesar. “Di rumahmu?”