Ini Uangku, Mas!
Masih menjelang siang, tensi darahku naik mendengar ucapan Ima.
"Jemput anakmu sekarang! Kalau tidak, jangan biarkan aku membuang putrimu ke tepi jalan," ancamku. Ini tak serius, mana mungkin aku tega mengusir Mimi.
"A-apa? Lagian Mimi hanya pengen ketemu Tia, masak itu aja kamu marah, Mbak?" Suara Ima tergagap. Ancamanku berhasil.
"Kamu punya otak nggak sih? Putrimu dibiarkan kelaparan, apa kamu tak punya hati? Binatang saja tak tega membiarkan anaknya kelaparan!"