Resep Rahasia Sang Pecundang
Radit bisa merasakan tatapan mereka menelanjanginya, bukan dengan rasa ingin tahu, melainkan dengan penghinaan yang terbungkus dalam selubung profesionalisme.
Mereka melihat kausnya, jinsnya, dan akhirnya tatapan mereka berhenti pada apron kain di tangannya. Radit melihat seringai tipis, bisikan merendahkan, dan gelengan kepala yang nyaris tak terlihat. Intimidasi itu adalah gelombang tak kasatmata yang menghantamnya, membuatnya merasa kecil, palsu, dan tidak pada tempatnya.
“Jangan hiraukan merak-merak itu,” bisik Luna di sisinya. “Bulu mereka memang indah, tapi daging mereka hambar.”
Hot Chapters