Selir Yang Terlupakan
Senyuman di bibir Chuntao tak memudar sedikit pun, namun matanya menajam sepersekian detik—sebuah pengakuan singkat bahwa pesannya telah diterima dengan baik, dan tak ada lagi yang perlu disembunyikan di balik kata-kata manis itu.
"Sama-sama," jawabnya lembut, nadanya tetap halus dan tak menimbulkan kecurigaan. Ia mengangkat cangkir porselennya, menyesap teh perlahan hingga terdengar bunyi halus saat bibirnya menyentuh pinggiran cangkir. "Tapi jangan pernah mengira aku adalah musuhmu, Lianhua. Aku tak pernah tertarik memperebutkan posisi yang sudah dikuasai orang lain, apalagi posisi yang begitu berbahaya dan penuh duri."