Transmigrasi: Menjadi Permaisuri Terbuang
"Kau melihat mawar itu, kan? Jarang sekali ada yang masih mekar, loh. Apakah kau mau membuatkan teh mawar untukku?"
Emma terdiam mematung.
"Teh mawar, Emma." Esther mengulangi kalimatnya.
"Teh mawar?" Emma membeo. "Tentu, Yang Mulia. Saya akan segera ke dapur dan membuatkannya." Emma tersenyum kikuk, sebenarnya ia tidak tahu apakah yang Esther maksud berbeda dengan yang ia ucapkan.
"Bukan itu, Emma. Kau tidak lihat bunga yang di sana? Hanya dua tangkai. Aku ingin dibuatkan teh mawar."