Teman Tidur Suamiku
Anya melanjutkan, nada bicaranya kini lebih serius, lebih emosional, seolah ia sedang menumpahkan semua kecemasan yang ia rasakan tadi.
“Untung aja aku bisa masuk ke rumah itu,” kata Anya sambil menatap Ilham lekat-lekat, menyiratkan rahasia kecil di antara mereka. “Kalau enggak … ah, kamu bisa bayangin gak sih? Dengan kondisi demam empat puluh derajat, di rumah sendirian, minimal—”
Kalimat Anya terputus oleh suara Ilham.
“Satu-satunya teman yang aku butuhkan di rumah itu kamu, Mbak.”