Mengamati perbedaan konsep 'devil' antara Barat dan Timur selalu membuatku terpana. Di Barat, terutama dalam tradisi Kristen, iblis sering digambarkan sebagai entitas jahat yang memberontak terhadap Tuhan, seperti Lucifer dalam 'Paradise Lost'. Visualnya pun cenderung dramatis—tanduk, sayap kelelawar, dan warna merah menyala. Sementara di Jepang, lewat anime seperti 'Demon Slayer', kita melihat 'oni' yang lebih kompleks; ada yang jahat, tapi ada pula yang justru menjadi pelindung atau bahkan komikal. Budaya Timur seolah memberi ruang bagi nuansa abu-abu dalam konsep kejahatan.
Yang menarik, di Barat, iblis sering dikaitkan dengan godaan moral absolut (seperti dalam 'The Exorcist'), sedangkan di Timur—misalnya dalam cerita rakyat Tiongkok—iblis bisa jadi makhluk yang tercipta dari dendam manusia atau ketidakadilan. Ini menunjukkan perbedaan filosofis: Barat cenderung dualistik (baik vs jahat), sementara Timur lebih menerima bahwa 'kejahatan' bisa lahir dari konteks tertentu. Aku sendiri lebih tertarik pada konsep Timur yang penuh metafora sosial ini.