Pesugihan Kandang Bubrah
Dan di sana, berdiri sosok bayangan seperti dalam mimpinya.
Wina menggenggam tangan Bu Narti dengan erat, tetapi wanita tua itu hanya mengangguk, seolah memberinya kekuatan untuk maju. “Bicaralah padanya, Wina. Ini saatmu.”
Dengan langkah ragu, Wina mendekati sosok itu. Semakin dekat, semakin jelas bentuknya, seorang pria tua dengan jubah hitam panjang dan tongkat kayu di tangannya. Wajahnya penuh keriput, tetapi matanya bersinar seperti api.