Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Sebatas Penghangat Tempat tidurmu

Sebatas Penghangat Tempat tidurmu

Herd melotot ke arah Sharon, dan. Plak! Mr. Herd memukul tembok dan hampir mengenai wajah Sharon, semnbari terus memaki dan merendahkan Sharon. "Kau hanyalah wanita jalang rendahan! Jangan pernah berharap untuk berada di dalam lingkungan keluargaku!" Tegas Mr. Herd. "Kau yakin, ayah mertuaku.. atau aku harus memanggil anda, ayah dari anakku!" Sharon mendekati Mr. Herd, memasuki jemarinya ke dalam celana lapisan yang sedang Mr. Herd kenakan.
1.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 39 kali sebagai ulat tembok
Baca
+Pustaka
Temen Tapi Demen

Temen Tapi Demen

TEMEN TAPI DEMEN 20 B Oleh: Kenong Auliya Zhafira Sementara Bapak dan Soni mulai bekerja membuka semua kain penutup yang menghiasi tarub sampai terlihat kerangka besinya. Soni memasukkan semua kain ke dalam kantong yang lumayan besar. Setelah itu, mereka bekerja sama saling menurunkkan semua atap seng dengan perlahan. Begitu juga dengan tiang penyangga dan yang lainnya.
108.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 221 kali sebagai ulat tembok
Baca
+Pustaka
Memantai [Tamat]

Memantai [Tamat]

“Halo? Halo halo? Hai? Halo halo hai hai? Mas! Mas bangun mas!” ucap Lili. Ridwan lalu tersentak dari lamunannya. Ia tersenyum miring meringis karena merasa malu sudah dipergoki seperti itu. “Hahaha.. Kayaknya di dalam tempe ini ga pakai bumbu ganja deh. Kok bisa .. itu.. kamu seperti tadi tuh.. Bengong begitu?” ucap Lili. “Ya.. Enak banget. Enak banget kok tempenya,”
108.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 201 kali sebagai ulat tembok
Baca
+Pustaka
Balas Dendam Sang Dokter Ahli Farmakologi

Balas Dendam Sang Dokter Ahli Farmakologi

Ia menatap ke atas, mencari jejak apapun. Tembok itu tinggi, hampir lima meter. Permukaannya halus, dipoles dengan batu granit yang mengkilat di bawah cahaya bulan. "Tidak ada bekas tangan atau kaki," katanya sambil menyentuh permukaan tembok dengan tangan. Pengawal kedua menyusuri tembok ke arah kanan. Matanya mengamati setiap celah, setiap retakan kecil.
1017.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 364 kali sebagai ulat tembok
Baca
+Pustaka
Teman Tapi Panas

Teman Tapi Panas

ujar Andi menenangkan sementara Ana justru makin terisak. “Jangan tinggalin aku.”
102.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 61 kali sebagai ulat tembok
Baca
+Pustaka
LEMBUR TENGAH MALAM

LEMBUR TENGAH MALAM

Tapi sebelum abang ojek itu pergi sepenuhnya, dia mendengar suara motor itu bergerak lagi—tetapi kali ini ke arah yang tidak mungkin. Gracya mengintip dari sudut matanya, dan apa yang dilihatnya membuat bulu kuduknya berdiri. Abang ojek itu, lengkap dengan motornya yang terbelah, melaju langsung menuju tembok kampus. Dan dalam sekejap, tubuhnya menembus tembok tersebut dengan lancar, meninggalkan jejak tipis darah di belakangnya. Dia masuk ke rumah sakit kampus, pikir Gracya, napasnya tersendat.
1.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 37 kali sebagai ulat tembok
Baca
+Pustaka
Gara-gara Teman, Rumah Tanggaku Berantakan

Gara-gara Teman, Rumah Tanggaku Berantakan

ucap seorang wanita berbadan tambun berdiri depan pintu utama yang terbuka, mengatup kedua pipi dengan tangan dan menunjukkan ekspresi terkejut. Terkekeh pelan nan canggung pria berbadan tinggi tegap itu mendapati pemilik rumah menyambut, melihat kedatangannya sebelum ia mengucapkan permisi atau izin untuk bertamu, "sori banget ini dadakan, mampir doang sekalian lewat," ujar pria bernama lengkap Tomi Uraga itu berbasa-basi.
102.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 94 kali sebagai ulat tembok
Baca
+Pustaka
PELET CINTA LOLITA!

PELET CINTA LOLITA!

lalu terdengar kekehan yang tertahan bersama berguncangnya si guling abnormal. Sholat? Diwakilin?! Teringat dengan satu-satunya makhluk Tuhan yang membahas perihal wakil-mewakili tentang ibadah, kelopak mata yang semula terpejam kini sepenuhnya terbuka. “Tembok putih.”Ucapnya pelan usai melihat dada bidang yang dipikirnya sebuah tembok. “Eh, kamu bangun jadinya?”
107.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 197 kali sebagai ulat tembok
Baca
+Pustaka
Terbukanya Gerbang Keadilan

Terbukanya Gerbang Keadilan

Tak main-main, lapisan pertama adalah tembok setinggi empat meter dengan tebal tiga meter, yang di belakangnya langsung dilapisi oleh tembok kedua dengan tinggi delapan meter dengan tebal yang sama, dan tembok setinggi dua belas meter berada di lapisan paling belakang, jarak antar lapisan adalah tiga meter. Para pemanah biasanya ditempatkan pada lapisan ketiga, memanah dari atas ketinggian tentu saja membuat para lawannya kewalahan. Selain itu, pada bagian depan tembok pertama dibuat parit selebar lima meter dengan kedalaman tiga meter, ini bertujuan agar kuda-kuda lawan tak bisa menyeberang.
103.7K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 119 kali sebagai ulat tembok
Baca
+Pustaka
Hati Suamiku, Milik Pujaan Hatinya

Hati Suamiku, Milik Pujaan Hatinya

"Kamu bisa panjat tembok kalau aku menggendongmu ke atas bahuku? Val!" Hanya ketika teriakan Marcel menarik pikirannya kembali, dia menyadari bahwa mereka sudah sampai di dekat tembok halaman. Tidak bisa. Tembok itu lebih dari empat meter. Bahkan seorang ninja pun tidak akan bisa memanjat tembok beton semulus ini.
8.1126.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 4.5K kali sebagai ulat tembok
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status