Istri Kesayangan Juragan
“Belikan kangkung, tomat, sama tempe, ya, Nduk. Di warung Bu Sarti aja. Sekalian angin-angin…”
Anin hanya mengangguk. Ia belum bicara sepatah kata pun sejak tamparan kemarin. Wajahnya tenang, tapi matanya masih menyimpan bekas luka yang belum reda.
Ia melangkah melewati gang kecil, menuruni jalan tanah yang setengah becek. Suara ayam dan sapu lidi berpadu membentuk orkes pagi desa. Tak sampai lima menit, ia sampai di warung sederhana di pinggir jalan—atap seng, dinding triplek, dan bau rempah yang menyeruak dari panci-panci besar.
Hot Chapters