Dewa
Tidak mungkin dia akan sanggup.
Sesampainya di pertigaan, dia berhenti sejenak. Dia mampir ke warung makan pinggiran yang ada di sebelah kanan jalan. Warung tenda, beratap terpal orange dan berpondasi sebilah kayu bambu di setiap sudutnya yang dikaitkan dengan tali rafia. Warung itu cukup sederhana, satu meja kusam memanjang, dan satu kursi memanjang dengan cat cokelat. Jika di Jogja tempat seperti itu biasanya disebut angkringan, tapi menurutnya itu bukan angkringan karena menu makanannya berbeda. Kalau di angkringan menyediakan sate usus, sate hati, sate ayam, gorengan, dan nasi yang sudah dibungkus dengan harga seribuan. Sementara warung itu menyediakan aneka makanan, seperti gado-gado, n
Hot Chapters