Ada satu kutipan dari novel 'Norwegian Wood' karya Haruki Murakami yang selalu membuatku merenung: 'Jika kamu benar-benar mencintai seseorang, kamu akan belajar menunggu. Seperti hujan di musim kemarau, seperti musim semi setelah musim dingin.' Rasanya begitu dalam karena menunggu bukan sekadar diam, tapi proses pengharapan yang aktif. Dalam komik 'Orange', tokoh utama menunggu surat dari masa depan, dan setiap halamannya mengajarkan bahwa ketidakpastian adalah bagian dari keindahan hidup. Aku pernah menunggu seseorang selama tiga tahun, dan meski akhirnya tidak sesuai harapan, proses itu justru mengajariku arti kesabaran.
Salah satu dialog di anime 'Clannad: After Story' juga menggigit: 'Menunggu itu sakit, tapi lebih sakit jika berhenti menunggu.' Kalimat ini seperti tamparan—kadang kita terus menunggu bukan karena yakin, tapi karena berhenti berarti mengakui bahwa harapan itu sudah mati. Di game 'The Last of Us Part II', Ellie menunggu pembalasan dendam, dan pacing-nya yang lamban justru membuat pemain merasakan beban psikologisnya. Menunggu memang selalu tentang dua sisi: kelelahan dan kemungkinan.