Kisah Yao Lao di 'Battle Through the Heavens' benar-benar membuatku terkesan sejak awal. Dia bukan sekadar mentor bagi Xiao Yan, tapi semacam figur ayah yang mengisi kekosongan dalam hidup sang protagonis. Awalnya muncul sebagai jiwa yang terkurung dalam cincin, karakter ini membawa kedalaman emosional yang jarang ditemui dalam cerita sejenis. Yang paling kusuka adalah bagaimana dia menggabungkan kebijaksanaan seorang alchemist legendaris dengan kelucuan seorang kakek nakal. Interaksinya dengan Xiao Yan seringkali menghangatkan hati, meski di tengah pertarungan sengit atau situasi genting.
Dari segi plot, Yao Lao adalah katalisator utama yang mengubah Xiao Yan dari underdog menjadi pahlawan. Pengetahuannya tentang alchemy dan teknik pertarungan memberi Xiao Yan alat untuk bangkit dari keterpurukan. Tapi yang lebih menarik, hubungan mereka berkembang organik dari sekadar transaksi menjadi ikatan keluarga. Adegan-adegan di mana Yao Lao mengorbankan diri untuk melindungi muridnya selalu berhasil membuat mataku berkaca-kaca. Karakter ini membuktikan bahwa kekuatan sejati dalam dunia cultivation bukan hanya tentang level, tapi tentang hubungan manusiawi yang tulus.