Two Side
Namun, sekali lagi hal itu ‘tak mampu membuatnya pergi, malahan sebuah tawa tercipta dengan senyum lebar di muka.
“Haa ... terserah kau sajalah, Leon.” Hanya bisa pasrah menghadapi tingkahnya, dan mau tidak mau membiarkannya ikut pergi ke tempat tujuan. Sesekali menatap arloji di tangan, dan mempercepat langkah di jalan. Sebuah nada dering terdengar dari saku celana, membuat tangan harus masuk dan mengeluarkan ponsel. “Hallo? Iya, sebentar. Ini lagi di jalan. Iya, maaf. Sebentar lagi sampai kok. Iya, gak bohong kok. Haaa .... iya-iya. Oh, ayolah. Apakah harus mengucapkannya di tengah jalan seperti ini? Haa ... merepotkan saja. I-i lo–aku tidak bisa. Yang lain sa–baiklah, sekali ini saja. I l