Ada sesuatu yang menggigit di balik melodi 'Zero' yang seolah sederhana. Liriknya berbicara tentang kekosongan, tapi bukan sekadar nihilisme—lebih seperti titik nol sebagai awal segala kemungkinan. Ingat bagaimana dalam matematika, nol adalah penemuan revolusioner yang memungkinkan sistem angka modern? Begitu pula lagu ini mengajak kita melihat 'ketiadaan' sebagai kanvas putih.
Dari sudut budaya Jepang, konsep 'mu' (kekosongan) dalam Zen Buddhisme sangat kental. Bukan tentang tidak ada apa-apa, melainkan ruang di mana segala sesuatu bisa muncul. Ketika vokal falsetto di chorus pecah, itu seperti teriakan dari kehampaan yang justru penuh makna. Mungkin kita semua perlu melalui fase 'zero' dulu sebelum benar-benar hidup.