Poor Fatma
Mimpi, mimpi, mimpi .
Sayangnya aku tidak hidup di dunia mimpi. Ya, aku boleh bermimpi seindah mungkin, tetapi saat aku membuka mata, aku adalah Fatma si gadis—ah, tidak! Bukan lagi gadis—buruk rupa, yang membersihkan darah keperawanannya dengan air mata, lalu membanjiri pernikahannya dengan air mata pula. Jelas, meski aku bukan wanita perebut suami orang, aku adalah perempuan hina yang telah ternoda. Sama-sama rendah.
Dua tahun berlalu, dan kehidupan masih tak berubah. Itu sebabnya, aku mulai merasa Tuhan tidak adil, tatkala Dia datangkan wanita sesempurna Mbak Ajeng dalam pandanganku.
Hot Chapters