Imperfect Love
Mulutnya sampai terbuka lebar, untuk meraup seluruh udara ke dalam dada.
“Tapi, Sayang, nanti sepi kalau anaknya cuma satu,” sang mami yang juga setia menemani mencoba memberi saran. Sementara Bira, sudah tertidur lelap pada ranjang kosong yang sejajar dengan Yasmen. Bahkan, rintihan maupun jeritan Yasmen tidak juga mampu mengusik tidur lelap pria itu. “Kamu tahu sendiri, kan, gimana rasanya jadi anak tunggal. Hampir tiap hari kamu minta sekolah dan nggak betah di rumah. Kalau sudah di rumah, minta ke rumah ayah biar bisa main sama mas Qai, juga mbak Mai.”