เข้าสู่ระบบแค่หลับไปงีบเดียวตื่นมาอีกทีก็กลายเป็นนางร้ายเบอร์หนึ่งของนิยายที่ตัวเองเพิ่งด่าจบไป วีรกรรมเจ้าของร่างเดิมคือที่สุดของความพัง ปั่นหัวคุณชายตระกูลใหญ่พร้อมกัน 4 คน ทั้งแม่ทัพ พ่อค้า หมอเทวดา แล้วเททิ้งหน้าตาเฉยตอนตระกูลเขาล้มละลาย แถมยังกล้าไปเหยียบหน้ารัชทายาทกลางงานหลวงอีก ผลกรรมในนิยายบอกไว้ชัดมากว่าวันเกิดฮ่องเต้ปีหน้า คือวันที่ทั้ง 4 คนจะร่วมมือกันลากนางไปเช็คบิล ส่งนางเอกตัวจริงขึ้นครองรัก ส่วนนางร้ายน่ะเหรอก็ตายอนาถข้างถนนไงล่ะ แต่เดี๋ยวก่อนฉันคือคนอ่านนิยายมาก่อนนะ ฉันรู้สปอยล์ทุกอย่าง ในเมื่อสวรรค์ส่งมาเกิดใหม่ทั้งที ก็ขอฉีก Bad End เขียนรูทใหม่เองละกัน
ดูเพิ่มเติมMalam itu hujan deras mengguyur suatu desa membuat jalan jalan tergenang air di mana mana.
Krek krek krek
Suara pintu yang dibuka.
"Wah hujannya deras banget sih bikin takut aja dan hawanya dingin banget," ucap seorang gadis yang berdiri di depan pintu rumahnya.
Dia bernama Sinta dia berumur 20 tahun dia adalah anak seorang pengusaha tempe dan tahu di desanya.
"Hujan deras ini sana masuk lah dulu kok malah hujannya di liatin," ucap Bapak Sinta yang tak sengaja melihat Sinta berdiri di depan pintu.
"Iya Pak ini juga mau masuk kok, aku cuman melihat keadaan luar banjir atau tidak" ucap Sinta kepada Bapaknya itu.
Bapak Sinta pun bergegas untuk kemar karena cuaca yang sangat dingin dan hujan yang deras Bapak Sinta memilih untuk tidur.
"Ah masuk takutnya ada petir, mana aku di depan pintu sendirian lagi ya ampun," gumam Sinta dari dalam hati.
Sinta pun menutup pintu dan mengunci pintu rumahnya dan bergegas ke kamar nya untuk berbaring dan menunggu hujan reda.
Sinta menunggu hujan reda sambil membaca buku, dia membaca buku karena dia sangat senang jika menghabiskan waktu luang dengan membaca buku.
Tok tok tok
"Sin sudah tidur belum?" tanya Ibunya dari luar kamarnya.
"Eh belum Bu kenapa Bu?" ucap Sinta kepada Ibunya.
"Ini lo Ibu bikin teh hangat sama pisang goreng kamu mau gak, enak banget loh mana ada sambelnya juga ini sin," ujar Ibunya kepada sinta.
Sinta pun membuka pintu kamarnya dan menemui Ibunya.
"Wah enak banget ini Bu mana masi hangat lagi di makan di cuaca yang dingin memang mantap Bu," ucap Sinta kepada Ibunya.
"Mau makan di kamar atau makan di luar bareng Ibu, soalnya Bapakmu sudah tidur kecapekan karena tadi banyak pesanan tahu sama tempe jadi kewalahan," ucap Ibunya kepada Sinta.
"Ya sudah makannya baremg Ibu aja di ruang tamu ayok Bu" ucap Sinta.
"Iyaa ayok," ucap Ibunya.
"Lah Bu Bapak kok bisa kecapekan lah buruh-buruhnya pada kemana Bu kan ada 8 orang buruhnya Bapak Bu" tanya Sinta kepada Ibunya yang sedang memakan pisang goreng.
"Iya ada buruhnya tapi buruhnya yang 2 orang lagi izin cuti jadi Bapak mu yang ikut ngurusin itu belum lagi ngantar tahu tempenya," ucap Ibunya Sinta
"Oalah Bu kasian Bapak ya Bu pasti capek banget karena kerjanya kan nonstop lo Bu," ucap Sinta kepada Ibunya itu.
Sinta melanjutkan makan pisang goreng dan minum teh hangat sembari menunggu hujan reda karena takutnya hujan deras mengakibatkan banjir.
"Ya mau gimana lagi Sin kan ini ya memang usaha Ibu sama Bapak Sin ini aja alhamdulillah bisa ada usaha begini cukup buat biaya kita dan bisa nabung juga buat masa depan kamu," ujar Ibunya kepada Sinta.
Sinta tersenyum dan memeluk Ibunya.
"Semoga sehat sehat terus ya bu sampai Sinta bisa banggain Ibu sama Bapak juga nantinya, Amin", ucap Sinta kepada ibunya yang tersayang.
Sinta Adalah anak satu-satunya dari orang tuanya dan Sinta tidak ingin membuat kedua Orang tuanya merasa terbebani akan adanya dia.
Setelah makan pisang goreng dan teh hangat Sinta merasa kenyang dan ibunya menyuruhnya untuk tidur ke kamar dan tidur
"Sin sana kamu pergi ke kamar dan tidir ini juga sudah malam loh Sin," ucap Ibunya kepada sinta.
"Iya Bu Sinta ke kamar dulu ya Bu udah ngantuk juga ini aku Bu," kata Sinta dengan nada lemas karena mengantuk.
Sinta pun pergi ke kamar dan hujan pun belum juga berhenti dan hujan malah semakin deras saja.
Ibunya pun juga tidur karena memang sudah sangat malam dan waktunya untuk beristirahat dan besok harus membungkus tempe karena banyak pesanan.
Ke esokan harinya Sinta bangun lebih pagi dari sebelumnya karena Sinta merasa ingin ke kamar mandi dan Ibu dan Bapaknya belum bangun.
"Duh mau ke kamar mandi kok masi gelap ya mana Ibu sama Bapak belum bangun lagi," gumam Sinta dengan pelan dan menuju ke kamar mandi.
Beberapa menit ke kamar mandi setelah itu Sinta kembali ke kamarnya tak lama kemudian Bapaknya pun bangun dari tidurnya.
"Eh sudah bangun kamu Sin jam begini la kok tumben banget ya biasanya aja siang bangunnya," ucap Bapaknya kepada Sinta yang barusan keluar dari kamar mandi.
"Terbangun karena pengen buang air kecil Pak jadi terpaksa bangun deh jam begini Pak hehe, " jawab sinta yang langsung masuk lagi ke kamar nya.
"Masuk ke kamar jangan tidur lagi Sin sini ikutan bungkus tempe dikit lagi, ini sama Ibu juga," ujar Bapaknya kepada Sinta.
"Iya Bapak dikit lagi Sinta ikutan bungkus tempe," ucap Sinta dari dalam kamar.
Akhirnya Sinta pun keluar dan berjalan ke arah tempat Bapaknya dan duduk untuk membantu membungkus tempe yang banyak itu.
"Lah Ibu mana Pak kok belum ada," tanya Sinta kepada Bapaknya.
"Ada itu masih di dapur masih ambil bungkusannya untuk ini membungkus tempe nya dikit lagi juga ikut gabung, ini di bungkus Sin karena pesanannya orang di antar jam 10 siang nanti," ucap Bapaknya itu kepada Sinta.
"Bapak banget ya Pak, ini semuanya Pak di bungkusinnya?" tanya Sinta.
"Iya semuanya tapi kan dikit lagi juga buruh-buruh nya Bapak kan pada datang mungkin sedikit lagi," ucap Bapaknya.
Tak lama kemudian pun Ibunya datang dengan membawa plastik untuk membungkus tempe.
"Ini plastiknya, lah ini anak gadis Ibu tumben jam segini baru bangun sudah bantuin bungkusin tempe lagi," ucap Ibunya dengan tersenyum kepada Sinta.
"Iya lah Bu menjadi anak yang berbakti Bu kepada Orang tua hehe," jawab Sinta kepada Ibunya.
Sinta pun ikut membungkus tempe bersama Bapak dan Ibunya dan tak lama kemudian datanglah buruh-buruh pabrik Bapaknya.
Mereka juga langsung ikut membungkus tempe agar cepat selesai dan yang lainnya mengurus tahu yang juga banyak orang pesan.
Bapak sinta adalah pengusaha pabrik tahu tempe yang besar dan banyak di kenal oleh orang-orang karena mengawali usahanya dari nol bersama Ibunya.
"Pak Bu nanti Sinta ke kampus jam 8 loh jadi sampai jam setengah 8 aja ya Sinta bantuinnya," ucap Sinta kepada Bapak Ibunya.
"Iya nak tidak apa-apa buruh-buruh juga sudah pada datang kok jadi nanti gampang banyak yang bantuin," jawab Ibunya kepada Sinta.
"Sin tolong ambilin tempat itu buat menaruh ini nak," kata Ibunya sambil menunjuk suatu wadah besar untuk di gunakan menata tempe.
"Iya Bu Sinta ambilin," jawab Sinta.
Sinta mengambilkan wadah yang mau di gunakan untuk tempat tempe.
"Ini bu wadahnya," ucap Sinta sambil menaruhkan wadah yang di bawanya ke samping Ibunya.
"Ya sudah kamu siap siap saja ke kampus takutnya nanti malah terlambat nak," ujar Ibunya kepada Sinta.
"Iya Bu, Sinta mandi dulu deh kalau begitu," ucap Sinta kepada Ibunya.
Sinta pun bergegas ke kamarnya untuk mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi.
Bersambung
ยามเฉิน วันที่ ๑๕ เดือน ๖ ณ ลานกว้างหน้าวังบูรพาผืนธงรบสีแดงฉานนาม ‘พยัคฆ์ขาว’ โบกสะบัดท้าทายสายลมอย่างองอาจโครม! โครม! โครม!ประตูใหญ่ของวังหลวงทั้งสี่ทิศปิดตายลงอย่างแน่นหนา กำลังพลทหารสามพันนายในสังกัดของจ้าวหลิงเซียวเข้าตรึงกำลังควบคุมพื้นที่ไว้ทุกตารางนิ้ว คันธนูทุกคันถูกขึ้นสายเตรียมพร้อม ดาบคมปลาบทุกเล่มถูกชักออกจากฝักประดับบารมี“จับกุมตัวผู้คิดคบคิดกบฏล้มล้างราชบัลลังก์! หลิวเหวินคัง!” เสียงตวาดกร้าวของจ้าวหลิงเซียวดังกึกก้องกัมปนาทมาจากบนหอคอยสูง ชุดเกราะทองคำสุกปลั่งสะท้อนแดดประกายเจิดจ้าก้าบ!!!เจ้าพยัคฆ์ขาว... ยืนหยัดอยู่ใจกลางลานกว้าง ร่างกายสวมชุดเกราะทองคำเต็มยศ มีผืนธงรบปักแน่นอยู่บนแผ่นหลัง มันยืดอกตั้งมั่น มิได้แสดงความหวาดกลัวต่อเสียงกลองรบที่รัวสนั่นเลยแม้แต่น้อยตัวข้า... เจียงลั่วอวี่ ยืนตระหง่านอยู่บนขั้นบันไดหินอ่อนของตำหนักเย็น สวมใส่อาภรณ์สีแดงฉานดุจโลหิตของแม่ทัพใหญ่ ในหัตถ์กุมพัดหยกดำไว้มั่นศึกสุดท้ายเพื่อชำระหนี้แค้น... เริ่มต้นขึ้นแล้วยามซื่อ ณ ประตูวังทิศตะวันตก“เปิดประตูวังหลวงเดี๋ยวนี้! พวกมึงล่วงรู้หรือไม่ว่ากูคือใคร... กูคือกั๋วกง!”
ยามจื่อ คืนวันที่ ๑๔ เดือน ๖ ณ นอกกำแพงเมืองหลวง ค่ายทหารกั๋วกงบรรยากาศโดยรอบมืดมิด สงบสงัด... ทว่ากลับอบอวลไปด้วยกระแสแห่งความเดือดพล่าน“เร็วเข้า!” เสี่ยวเถาลอบกระซิบเสียงแผ่ว นางอยู่ในชุดพรางกายสีดำสนิท ใบหน้าคลุมปิดมิดชิด ในมือประคองขวดยาสลบ ‘นิทราไร้ลักษณ์’ ของท่านหมอกงไว้อย่างระมัดระวัง “คุณหนูสั่งการมา... ให้เทลงไปในบ่อน้ำใหญ่ประจำค่ายเพียงบ่อเดียวก็เพียงพอแล้ว”เบื้องหลังของนางมีพลทหารฝีมือดีของมู่เจ๋อจำนวนสิบนาย แสร้งปลอมแปลงกายเป็นชาวบ้าน แบกถังน้ำเข้ามาอย่างเงียบเชียบ“แม่นางแน่ใจนะ... ว่าตัวยานี้จะไม่คร่าชีวิตพวกมัน?” ทหารผู้หนึ่งเอ่ยถามด้วยความกังวล“มิสิ้นชีพดอก... เพียงแต่จำต้องหลับสนิทนิทราไปสามวันสามคืนเต็ม” เสี่ยวเถาเอ่ยตอบ “ท่านหมอกงคำนวณปริมาณยาไว้ถี่ถ้วนแล้ว ยาจักออกฤทธิ์ครอบคลุมตั้งแต่วันที่สิบห้าถึงวันที่สิบเจ็ดมิขาดสาย”สามวันสามคืน... กองทัพห้าหมื่นนายของกั๋วกงจักต้องหลับใหลไร้ทางสู้ยกค่าย“ลงมือ!”ซ่า...ของเหลวสีม่วงครามถูกเทลงสู่ก้นบ่อน้ำใหญ่ใจกลางค่ายทหาร กลิ่นอายของมันจางหายไปในอากาศ ละลายกลมกลืนไปกับสายน้ำอย่างรวดเร็ว ไร้สี ไร้รส และไร้กลิ่นท
ยามรุ่ง วันเสาร์ ณ เมืองหลวง“เหมืองน้ำแข็งพังทลาย! พังทลายสิ้นแล้ว!”“คนงานดับสูญร่วมสามสิบชีวิต! น้ำแข็งขาดตลาดทั่วทั้งเมืองหลวง!”“หอการค้าเจียงเสิ่น... ประกาศปรับขึ้นราคาน้ำแข็งสิบเท่าตัว!”เสียงป่าวร้องตะโกนก้องดังระงมไปทั่วทุกตรอกซอกซอย ทั่วทั้งตลาด และเหลาชาทุกแห่งหน คนของเสิ่นชิงโจวจำนวนหนึ่งร้อยนายกระจายกำลังทำงานได้มีประสิทธิภาพเกินกว่าที่คาดคิดไว้เสียอีกข้ายืนตระหง่านอยู่บนหอคอยสูงของตำหนักเย็น ทอดสายตามองลงไปยังเบื้องล่าง... ยามนี้เมืองหลวงกำลังเดือดพล่านประดุจน้ำร้อน ร้านรวงต่างพากันปิดป้ายประกาศ ‘น้ำแข็งหมดสิ้น’ บรรดาคหบดีผู้มั่งคั่งต่างแย่งชิงกว้านซื้อจนถึงขั้นลงไม้ลงมือตบตีกันที่หน้าหอการค้า แม้กระทั่งทหารในสังกัดของกั๋วกงก็ยังวิ่งวุ่นออกกว้านซื้ออย่างลนลาน“คุณหนูเจ้าคะ! ราคาพุ่งทะยานขึ้นแล้วเจ้าค่ะ!” เสี่ยวเถาวิ่งกระหืดกระหอบขึ้นมารายงาน พลางยื่นใบราคาสินค้าให้ข้าดูด้วยมืออันสั่นเทา “เมื่อวานนี้... ราคายังคงอยู่ที่หนึ่งตำลึงต่อก้อน ทว่ายามนี้... กลับพุ่งสูงถึงสิบตำลึงแล้วเจ้าค่ะ!”สิบเท่าตัว... ภายในค่ำคืนเดียว“ทางฝั่งกั๋วกง... เคลื่อนไหวอย่างไรบ้าง?”“ยังมิ
ยามสาย วันศุกร์ ณ ตำหนักเย็น“คุณหนูเจ้าคะ! มาแล้วเจ้าค่ะ! ส่งตรงมาครบทั้งสี่ทิศเลยเจ้าค่ะ!” เสี่ยวเถาวิ่งกระหืดกระหอบเข้ามาในห้อง ในมือประคองถาดไม้อย่างระมัดระวัง บนถาดนั้นมีห่อผ้ารูปทรงประหลาดสี่ห่อ... มันคือ ‘ขนมเป็ด’ สี่ห่อทว่าลักษณะและสีสันการห่อกลับแตกต่างกันโดยสิ้นเชิงห่อที่หนึ่ง: ผ้าไหมสีดำสนิท ปักลวดลายพยัคฆ์เหิมเกริมห่อที่สอง: ผ้าไหมสีน้ำเงินคราม ปักลวดลายพัดโบกสะบัดห่อที่สาม: ผ้าไหมสีขาวบริสุทธิ์ ปักลวดลายเข็มเงินเรียวยาวห่อที่สี่: ผ้าไหมสีทองสุกปลั่ง ปักลวดลายมังกรทะยานฟ้า“ของฝากจากผู้ใดบ้างงั้นหรือ?” ข้าละสายตาพลางวางพู่กันในมือลง หลังจากเพิ่งจรดหมึกเขียนแผนที่กลยุทธ์ฉบับปรับปรุงใหม่เสร็จสิ้น“ของท่านแม่ทัพเสือ พ่อค้าเสิ่น ท่านหมอเทวดากง และองค์รัชทายาทเจ้าค่ะ!” เสี่ยวเถารายงานตามตรง “ทุกคนฝากถ้อยคำมาเหมือนกันว่าเป็น ‘ขนมบำรุงรักษากาย’ ทว่า... น้ำหนักของมันกลับหนักอึ้งแปลกๆ เจ้าค่ะ”ข้าเอื้อมมือไปแกะห่อผ้าไหมสีดำสนิทออกเป็นลำดับแรก ด้านในบรรจุขนมเป็ดห้าชิ้น... และมีกระดาษแผ่นเล็กพับซ่อนอยู่หนึ่งแผ่น‘ซ้อมรบเสร็จสิ้น กองทัพพร้อมพรัก รอคอยเพียงอาณัติสัญญาณจากมึ
ยามไห่ วังหลวงข้ายืนอยู่เบื้องหน้าตำหนักบูรพาที่ประทับขององค์รัชทายาทลมหนาวปลายเดือนสามพัดชายอาภรณ์สีชาดปลิวไสว ปิ่นหงส์ทองบนศีรษะหนักอึ้งดุจมีศิลาทับไว้ทว่าหนักไม่เท่าความรู้สึกในอกยามนี้ภายใน…มีเขาอยู่จ้าวหลิงเซียวและถ้วยน้ำแกงที่ถูกวางยาปลุกกำหนัด“หยุด! ที่นี่เขตหวงห้าม!” ทหารยามไขว้ทวนขว
“คุณหนูเจ้าคะ! แย่แล้วเจ้าค่ะ! เกิดเรื่องใหญ่แล้ว!”เสียงร้องตะโกนของเสี่ยวเถาปลุกข้าให้ตื่นจากภวังค์ นางพุ่งพรวดเข้ามาเขย่ากายข้าจนหัวสั่นหัวคลอน ในมือกำม้วนกระดาษสี่ฉบับแน่น ใบหน้าซีดเผือดราวกับเห็นภูตผีมาปรากฏกายอยู่ตรงหน้า“แค่ก... มีเรื่องอันใด?” ข้ายันกายลุกขึ้น ไอโขลกออกมาเบาๆ พยายามกลืนรส
ยามกลับถึงจวน ข้าก็สำรอกออกมาจนสิ้นแรงมิใช่เพราะเมามายจากการนั่งรถม้า ทว่าเป็เพราะ ‘ผงซ่างหาน’ เริ่มจู่โจมร่างกายจนปั่นป่วนไปหมด“แค่ก! แค่กๆ!” ข้าใช้ผ้าเช็ดหน้าปิดปาก ทว่าเมื่อคลี่ออกดู กลับพบจุดโลหิตสีแดงฉานกระจายตัวประหนึ่งหยาดเหมันต์ร่วงโรยลงบนหิมะโลหิต... มันเริ่มแล้วจริงๆ“คุณหนู!” เสี่
“คุณหนู! พระราชโองการ... พระราชโองการจากวังหลวงมาถึงแล้วเจ้าค่ะ!”เสี่ยวเถาวิ่งหน้าตื่นเข้ามาในจวนยามที่ข้ากำลังไอโขลกเป็นรอบที่สองของวัน แม้จักยังไม่มีโลหิตซึมออกมา ทว่าลำคอกลับแห้งผากประหนึ่งผืนดินขาดน้ำ ‘ผงซ่างหาน’ เริ่มสำแดงฤทธิ์เดชเสียแล้วข้าปาดริมฝีปากพลางถามเสียงเรียบ “โองการว่าอย่างไร?”











