พันธะรักเร้นกาย

พันธะรักเร้นกาย

last update최신 업데이트 : 2026-07-07
작가:  หนามชมพู완결
언어: Thai
goodnovel4goodnovel
순위 평가에 충분하지 않습니다.
50챕터
1.2K조회수
읽기
보관함에 추가

공유:  

보고서
개요
장르
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.

รับตำแหน่งใหม่ได้ไม่กี่วัน ฉินมู่อิงก็เสียชีวิตทะลุมิติมาอยู่ในร่างหญิงสาวยากจนที่มีสามีป่วยรออยู่ที่บ้าน ตั้งแต่บิดาเสียชีวิต นางก็ถูกจับแต่งงานกับบุรุษแปลกหน้าที่บิดาช่วยเหลือไว้เพื่อรักษาชื่อเสียงและความปลอดภัย นางตั้งใจหาเงินรักษาสามี ส่วนเขาก็ช่วยกันเต็มที่ ก่อเกิดเป็นความรู้สึกดี ๆ ขึ้นในใจ ทว่าเมื่อหายป่วยเขาก็จากนางไปด้วยเหตุผลบางประการ นางไม่ตามหาแต่กลับเลือกใช้ชีวิตที่มีเพียงตัวคนเดียว โชคชะตาเล่นตลกกับนางไม่เลิกเมื่อนางได้พบเขาในฐานะใหม่ที่ยิ่งทำให้ทั้งคู่เหมือนไกลกันออกไปเรื่อย ๆ พร้อมกับการค้นพบตัวตนของตนเองอย่างนึกไม่ถึง

더 보기

1화

เกือบตายซ้ำสอง

Sore itu sekolah sudah mulai sepi, menyisakan koridor panjang yang terasa sedikit angker.

Arjuna Dewangga alias Juna, menyeka keringat yang bercucuran deras di dahi menggunakan punggung tangannya yang kasar.

Dia memanggul keranjang plastik berisi sisa botol jamu dagangannya yang beratnya lumayan menguras tenaga.

Untungnya, sinom dan beras kencur buatan Ibu Lastri selalu ludes diborong teman-teman sekolah yang kehausan setelah jam pelajaran selesai.

“Alhamdulillah, kalau laris begini terus, uang obat Ibu buat bulan depan aman,” batin Juna sambil tersenyum kecut mengingat kondisi Ibunya di rumah.

Langkah kaki Juna menggema di koridor lantai dua, melewati deretan kelas yang sudah terkunci rapat.

Entah kenapa, perasaannya mendadak tidak enak saat mendekati lorong toilet guru wanita di ujung selasar.

Lorong itu terkenal sunyi, apalagi lampu neonnya sering berkedip-kedip seperti di film horor murahan..

Satu botol kaca jamu mendadak tergelincir dari tumpukan di keranjang plastik Juna karena pegangannya yang sudah agak longgar.

Duggg….Duggg..Duggg...Klontang…!

Benda itu menghantam lantai, namun tidak pecah, melainkan menggelinding dengan kecepatan penuh ke arah toilet wanita.

"Waduh, mampus! Botol modal ituh…!" umpat Juna dengan suara tertahan.

Dia segera berlari kecil mengejar botol itu yang seolah punya nyawa sendiri.

Celakanya, botol itu menggelinding masuk ke celah pintu bilik paling ujung yang sedikit terbuka.

Juna berhenti tepat di depan pintu toilet guru yang biasanya dilarang dimasuki siswa pria mana pun.

“Aduh, gimana inih? Kalau ketahuan Pak Broto, habis aku dikuliti hidup-hidup,” batin Juna sambil menoleh ke kanan dan kiri dengan waspada.

Rasa takut akan hukuman kalah telak oleh rasa sayang Juna pada barang dagangannya.

Juna menarik napas panjang, lalu menyelinap masuk ke dalam area toilet guru yang beraroma wangi mawar itu.

Dia membungkuk rendah, berusaha meraih botol jamu yang bersembunyi di balik bayangan pintu bilik.

Namun, tepat saat tangannya hampir menyentuh botol, Juna mendengar suara yang membuat jantungnya hampir melompat keluar dari tenggorokan.

"Ahhh... essshhh... sedikit lagihhh...!"

Suara desahan itu terdengar sangat berat, basah, dan penuh tekanan.

Juna membeku di posisi membungkuk, kepalanya tanpa sengaja melewati celah pintu yang terbuka sekitar sepuluh sentimeter.

Di dalam sana, di atas kloset duduk, Ibu Arini Kusuma sedang berada dalam kondisi yang menghancurkan seluruh logika Juna sebagai siswa teladan.

Guru Bahasa Indonesia yang terkenal anggun dan selalu rapi itu kini tampak berantakan.

Rok span hitam ketat miliknya sudah tersingkap sangat tinggi, bahkan melewati batas paha atasnya yang putih mulus.

“Be-Beneran mulusss... lebih mulus dari porselen di toko bangunan!” batin Juna dengan mata melotot liar.

Jari tangan kanan Ibu Arini bergerak ritmis di balik kain tipis yang menutupi area ‘apem tembem’ miliknya.

Wajah Ibu Arini memerah padam, keringat sebesar biji jagung membasahi leher jenjangnya.

Napasnya memburu, menciptakan uap hangat yang terasa memenuhi bilik sempit tersebut.

Juna merasakan suhu tubuhnya mendadak naik drastis seolah dia baru saja menenggak satu galon jamu penguat stamina.

“Gustiii... Ibu Arini lagi mainin anunya sendiri? Di toilet sekolah?” batin Juna sambil menelan ludah dengan susah payah.

Rasanya ada sesuatu yang mengeras di balik celana seragam Juna yang sudah mulai kerasa kekecilan itu.

‘Batangan nakal’ miliknya mendadak bereaksi, menegang kaku seolah mendapatkan sinyal magnetis dari pemandangan di depannya.

Juna yang panik mencoba menarik kembali kepalanya, namun sialnya, kakinya justru tersandung botol kaca tadi.

Takkk…!

Bunyi botol yang membentur keramik terdengar begitu nyaring di ruangan yang sunyi itu.

Ibu Arini tersentak, matanya yang tadi terpejam sayu langsung membelalak lebar.

Dia menunduk dan langsung beradu pandang dengan wajah Juna yang masih membeku di bawah sana.

"Ju-Juna?!" pekik Ibu Arini dengan suara yang pecah karena kaget sekaligus malu.

Juna refleks menutup kedua matanya rapat-rapat menggunakan kedua telapak tangannya.

"A-A-Anu, Bu! S-Sumpah, Juna cuma mau ambil botol yang gelinding!" seru Juna dengan suara bergetar sehebat gempa bumi.

Dia merasa wajahnya terbakar, apalagi dia tahu posisi Ibu Arini masih sangat terbuka di depannya.

“Mampus aku! Habis ini pasti dikeluarkan dari sekolah! Mana beasiswa lagih…!” batin Juna meratap histeris.

Keringat dingin mengalir deras dari pelipisnya, membasahi tangannya yang masih menutupi mata.

"Junaaa... kamuuu... kamu lihat apa saja tadi?" tanya Ibu Arini dengan nada yang aneh, antara marah dan memohon.

"E-Enggak lihat apa-apa, Bu! Gelap semua! Sumpah, mata Juna minusnya nambah mendadak!" bohong Juna sambil gemetaran.

Dia mencoba membalikkan badan, berniat lari sekencang mungkin tanpa mempedulikan botol jamunya lagi.

Namun, sebelum Juna sempat melangkah keluar dari bilik, sebuah tangan yang terasa sangat panas mencengkeram pergelangan tangannya.

Cengkeraman itu begitu kuat, seolah-olah ditarik oleh seorang atlet angkat besi, bukan seorang guru wanita.

Srettt…!

"Masuk ke sini!" perintah Ibu Arini dengan nada rendah namun penuh penekanan.

Juna terseret mundur masuk ke dalam bilik yang hanya berukuran satu kali satu meter itu.

Brakkkk!

Pintu bilik ditendang tutup oleh kaki Ibu Arini yang masih belum menurunkan rok spannya secara sempurna.

Klik!

Suara kunci pintu yang diputar terdengar seperti vonis hukuman mati bagi Juna.

Punggung Juna menghantam dinding keramik yang dingin, namun dadanya justru bersentuhan dengan bahu Ibu Arini yang panas.

Aroma parfum mawar bercampur dengan bau keringat yang sangat tajam dan menggairahkan langsung menyerang hidung Juna.

Ibu Arini menyandarkan kepalanya di dada Juna, bahunya naik turun seiring dengan napasnya yang belum teratur.

"B-Bu... i-iniii… salah paham, Bu. Juna janji nggak akan bilang siapa-siapa kalau Ibu lagiii... anu..." ucap Juna dengan suara mencicit.

Ibu Arini mendongak, menatap Juna dengan mata yang tampak sangat sayu dan dipenuhi gairah yang belum tuntas.

"Saya menderita penyakit langka, Juna. Sesuatu yang hanya muncul jika saya terlalu lama menahannya," gumam Ibu Arini lirih.

Juna semakin bingung, otaknya yang sudah mesum makin sulit diajak bekerja sama.

"Pee…Penyakit apa, Bu? Butuh jamu kunyit asam saya?" tanya Juna dengan polosnya.

Ibu Arini menggeleng, lalu menarik tangan Juna menuju ke arah pinggangnya yang ramping.

"Ini bukan penyakit yang bisa sembuh dengan jamu murahmu itu, Juna."

Wajah Ibu Arini mendekat ke arah telinga Juna, membisikkan sesuatu yang membuat seluruh saraf Juna menegang.

"Tubuh saya mendadak terasa dingin seperti es jika tidak ada yang menyentuhnya... dan kamu, Juna, tubuhmu terasa sangat panas."

Tangan Ibu Arini kini mulai meraba dada bidang Juna, mencari detak jantung pemuda itu yang berpacu gila.

"A-A-Anu... Bu... J-Juna harus pulang," ucap Juna terbata-bata sambil mencoba melepaskan diri.

Namun, Ibu Arini justru semakin merapatkan tubuhnya, membuat Juna bisa merasakan kenyalnya "melon" besar milik gurunya itu menekan dadanya.

Deggg...

Juna merasa dunianya seolah berhenti berputar detik itu juga.

Ibu Arini menatap lurus ke mata Juna, lalu berkata dengan suara yang sangat serius.

"Saya ingin kamu menjadi 'obat' pribadi saya mulai sore ini, Juna."

"Aa... apanya yang diobati, Bu?" tanya Juna dengan keringat dingin yang semakin deras.

Ibu Arini menarik tangan Juna lebih rendah lagi, menuju ke arah kakinya yang masih terbuka lebar.

"Semuanya. Dan jika kamu menolak, saya pastikan beasiswamu dicabut besok pagi."

Juna tertegun, ancaman itu menghantamnya tepat di ulu hati.

Di satu sisi dia ketakutan, tapi di sisi lain, batin mesumnya justru mulai menikmati aroma dan kehangatan tubuh Ibu Arini.

“Sialan... kenapa ini malah jadi kontrak ranjang?!” batin Juna menjerit dalam dilema.

Pintu toilet mendadak terdengar diketuk dari luar dengan keras.

Tok! Tok! Tok!

"Arini? Kamu di dalam?" suara berat Pak Broto terdengar di balik pintu toilet luar.

Juna dan Ibu Arini seketika membeku, saling menatap dengan napas tertahan.

"Mampus... Pak Broto!" bisik Juna dengan wajah yang mendadak pucat pasi.

Ibu Arini segera membungkam mulut Juna dengan telapak tangannya yang harum.

Dia memberi isyarat agar Juna tidak mengeluarkan suara sedikit pun.

Masalahnya, wajah mereka kini hanya berjarak beberapa sentimeter saja, dan tangan Juna masih tertahan di atas paha mulus gurunya itu.

Ibu Arini menatap pintu bilik dengan tajam, sementara tangan lainnya mulai meraih kunci pintu seolah siap melakukan sesuatu yang nekat.

펼치기
다음 화 보기
다운로드

최신 챕터

더보기
댓글 없음
50 챕터
เกือบตายซ้ำสอง
ลมฤดูใบไม้ร่วงโชยมากระทบร่างบอบบางของฉินมู่อิงที่นอนหมดสติอยู่กลางป่า ความเจ็บปวดแล่นพล่านทั่วศีรษะจนนางต้องนิ่วหน้า สิ่งสุดท้ายที่จำได้คือไม้ท่อนใหญ่ที่ฟาดลงมาพร้อมกับเสียงหัวเราะเยาะหยันของโจรป่าที่ฉกชิงเงินก้อนสุดท้ายในชีวิตไปนางลืมตาขึ้นอย่างยากลำบาก พลางหยิบสมุนไพรสดในตะกร้ามาขยี้แล้วโปะลงบนแผลอย่างคล่องแคล่ว ความสุขุมนี้ช่างแปลกประหลาดนัก ไม่เหมือนหญิงชาวบ้านที่อ่านไม่ออกเขียนไม่ได้อย่างฉินมู่อิงคนเดิม นางควรจะร้องไห้คร่ำครวญด้วยความอดทนอันน้อยนิด โทษฟ้าโทษดินและทุกสิ่งอย่างที่ทำให้นางมีชีวิตตกต่ำนางพยุงกายลุกขึ้น แววตาที่เคยว่างเปล่ากลับฉายแววครุ่นคิด'วัยสามสิบปี ตำแหน่งหัวหน้าฝ่ายการจัดการที่เพิ่งได้รับมาสามวัน ทุกอย่างจบลงเพราะอุบัติเหตุเพียงชั่ววูบงั้นหรือ'นางสลัดความสมเพชตัวเองทิ้ง ยันกายลุกขึ้นพร้อมตะกร้าใบใหญ่ สิ่งเดียวที่ต้องทำตอนนี้คือกลับบ้านให้ทันก่อนตะวันตกดินเมื่อมาถึงกระท่อมในหมู่บ้าน บรรยากาศเงียบเหงาและแห้งแล้งกว่าที่คิด ร่างสูงของบุรุษในชุดผ้าเนื้อหยาบเดินออกมาจากข้างใน แม้จะสวมเสื้อผ้าเก่าขาด แต่ท่วงท่าการเดินกลับดูองอาจอย่างน่าประหลาด"เกิดอะไรขึ้นถึงกลับ
더 보기
ชีวิตใหม่ที่โรยด้วยขวากหนาม
ฉินมู่อิงไม่ได้ดื่มยาที่อาเหยียนนำมาให้ นางนอนหลับไปจนถึงเช้าของอีกวัน อาการปวดหัวลดลงไปมาก นางลุกจากเตียงเดินออกไปข้างนอก สงสัยว่าคนเมื่อคืนหายไปไหนแล้วควันลอยออกมาจากห้องครัว แสดงว่ามีคนอยู่ในนั้น ฉินมู่อิงเดินไปดู นางเห็นอาเหยียนกำลังพัดวีเตาที่มีหม้อดินตั้งอยู่"ทำอะไรแต่เช้า"เขาเงยหน้าละสายตามองมาที่นางทว่ากลับไม่มีคำพูดเปล่งออกมาแม้แต่คำเดียว ฉินมู่อิงเอามือจับที่ศีรษะตรงแผลยังปวดอยู่บ้างแต่ก็ดีขึ้นกว่าเมื่อวานมากนัก"มู่อิงอยู่หรือไม่"เสียงเรียกที่หน้าบ้านทำลายความเงียบอันน่าอึดอัด ฉินมู่อิงเดินออกไปดู เห็นสตรีวัยกลางคนยืนรอที่รั้วด้านนอก"ป้าเจี่ย มีอะไรหรือเจ้าคะ"ป้าเจี่ยเลิกคิ้วสูง หรี่ตาและทำท่าทางประหลาดใจ ฉินมู่อิงเห็นนางเงียบไปจึงถามอย่างเป็นห่วง"ท่านป้า ทำไมเงียบไปเจ้าคะ"เมื่อเห็นนางท้วง ป้าเจี่ยถึงนึกขึ้นได้ว่าตนมีธุระเรื่องใด"อ้อ ลืมไป ข้าเอาไข่ไก่มาฝาก ที่บ้านมีเยอะ"สตรีอาวุโสกว่ายื่นตะกร้าใส่ไข่ให้นาง ฉินมู่อิงจำได้ว่าป้าเจี่ยคนนี้เอ็นดูนางมาตลอดตั้งแต่ย้ายมาอยู่ที่นี่และช่วยเหลือนางหลายอย่าง"ขอบคุณมากเจ้าค่ะ""อ้อ เจ้ากับอาเหยียนกินเยอะ ๆ ล่ะ ดูสิผอมบางกัน
더 보기
ทวงหนี้
นางโง่เองที่หลงเชื่อเสี่ยวหลันกับอาเหมย เพราะอีกสิบวันจะมีงานรื่นเริงในตัวเมือง นางอยากได้ชุดสวย ๆ ใส่ไปอวดกับสหายและทำตัวเหมือนเหล่าคุณหนูที่มาเที่ยวงาน เผื่อความสวยของนางจะไปถูกตาต้องใจเหล่าคุณชายตระกูลดี ๆ บ้างยิ่งนึกทบทวนก็ยิ่งปวดหัว นี่เจ้าของร่างเดิมคิดจะทิ้งสามีถึงกับวางแผนชั่วร้ายขนาดนี้เชียวหรือ เมื่อวานนางถูกปล้นเอาเงินไปหมด เงินที่กู้ยืมมาก็อยู่ในถุง ตอนนี้นางไม่เหลืออะไรแล้วนางหันมองสองสหายที่หัวเราะเยาะเย้ยตนที่หน้าบ้านก็เข้าใจทุกอย่าง"ท่านลุง ท่านป้า ข้ายังไม่มีเงินคืนท่านตอนนี้ ขอเวลาสี่ห้าวันให้ข้าเอาของป่าไปขายก่อนแล้วข้าจะทยอยคืนให้"นางพูดชัดถ้อยชัดคำแววตามั่นใจจนเจ้าหนี้สองคนขมวดคิ้วมองหน้ากันฉินมู่อิงคนเก่าไม่กล้าพูดขนาดนี้ นอกจากด่าสามีแล้ว นางก็ไม่มีความสามารถอะไรเลย อาเหยียนมองนางนิ่งนานราวกับกำลังประเมินเช่นเดียวกัน"คนอย่างเจ้าเนี่ยนะจะไปค้าขาย อย่าคิดตุกติกกับข้า ข้ามีสัญญาที่เจ้าประทับลายนิ้วมือเองนะ"ฝ่ายสามีเริ่มข่มขู่"เช่นนั้นข้าขอดูได้หรือไม่"อาเหยียนเอ่ยขึ้น"เจ้าเกี่ยวอะไร ไอ้คนพเนจร!"เขาตวาดลั่นบ้านพร้อมส่งสายตาเหยียดหยาม"หยุดนะ! ข้าเป็นลูกหน
더 보기
เข้าเมือง
อาเหยียนได้ยินเสียงโต้เถียงกันครู่หนึ่งก็สงบลง เรื่องปากร้ายใครจะสู้ภรรยาของเขา เพียงแต่นางไม่ได้ด่าเขาแต่ด่าคนอื่นแทน ที่นางบอกว่านางสวยกว่าเสี่ยวหลันนั่นก็ไม่ผิดแม้แต่น้อยนางสวยมากเกินหญิงชาวบ้านธรรมดา หากไม่นับกิริยาและมันสมองที่มีไม่มากนัก เขาก็คิดว่านางคงเป็นคุณหนูจวนขุนนางชั้นสูงสักจวน แต่เพราะนางเป็นเช่นนี้จึงเชื่อได้สนิทใจว่านางเป็นเพียงสาวชาวบ้านที่หน้าตาดีเท่านั้นตั้งแต่วันแรกที่ฟื้นขึ้นมาเมื่อหลายเดือนก่อนดูเหมือนว่าอาเหยียนจะเพิ่งมีอาการดีขึ้นเมื่อสิบสองวันที่ผ่านมา แต่โชคชะตาก็เล่นตลกซ้ำ ๆ เมื่อฉินเหวินเมาเหล้าหนักและเสียชีวิตกลางแดดที่เชิงเขาเมื่อสามเดือนที่แล้ว หลังจากนั้นเพียงสิบห้าวันหัวหน้าหมู่บ้านและเหล่าผู้อาวุโสก็ลงความเห็นว่าเขาควรแต่งงานกับฉินมู่อิงซะ เพื่อป้องกันภัยอันตรายที่จะเกิดขึ้นกับนาง และคำครหาที่จะตามมาภายหลังว่าหนุ่มสาวที่ยังไม่แต่งงานอยู่ด้วยกันตามลำพังเขาไม่มีแรงแม้แต่จะตอบปฏิเสธ แต่เพื่อเป็นการตอบแทนฉินเหวินจึงตอบตกลงทั้งที่เพิ่งเริ่มเดินได้เพียงห้าก้าวฉินมู่อิงใช่ว่าจะดีใจ ตรงกันข้ามนางกลับหน้าบูดบึ้งตลอดเวลา การมีสามีขี้โรคหมายความว่านางต้องเป
더 보기
คำถามที่ไม่มีคำตอบ
ฉินมู่อิงเดินจากมาด้วยความสะใจ นางเดินกลับบ้านพลางคิดไปตามทาง ไม่ว่าโลกยุคไหนก็ยังมีคนที่เหยียดหยามผู้ที่ดูด้อยกว่า นางมีเกราะป้องกันที่แข็งแกร่งติดตัวมา การโดนดูแคลนเช่นวันนี้นางจึงไม่แสดงความอ่อนแอออกมา ความทรงจำร่างเก่าผุดขึ้นมาในทันใด เมื่อก่อนฉินมู่อิงไม่เคยพบปะผู้คนมากมายขนาดนี้ หากสายตาเหล่านั้นมองดูหมิ่นนางเพียงนิดนางก็เกิดน้อยเนื้อต่ำใจร้องไห้กลับบ้านไปแล้ว นางเดินคิดเพลิดเพลินไปเรื่อย ชมธรรมชาติของป่าสองข้างทางไปด้วย บนถนนหนทางในวันนี้ไม่เงียบเหงา มีเกวียนผ่านมาบ้างและผู้คนสัญจรผ่านกันไปมาไม่ขาดระยะ แต่วันที่นางโดนปล้นเหตุใดถึงไม่มีบรรยากาศแบบนี้เกิดขึ้น แต่หากไม่มีการปล้น ร่างเดิมคงไม่ตายและนางก็คงไม่ได้มายืนอยู่ตรงนี้ ฉินมู่อิงกลับมาถึงบ้านพอดีกับที่อาเหยียนเดินมาหน้าบ้าน "กลับมาแล้ว" นางทักทายเสียงสดใส เผยรอยยิ้มหวานและแววตาเปล่งประกายระยิบระยับอย่างที่เขาไม่เคยเห็น ชวนให้หัวใจคนมองกระตุกวูบหนึ่ง อาเหยียนชะงักฝีเท้าเล็กน้อยก่อนเดินเข้ามาจะช่วยแบกตะกร้าตามสัญชาตญาณ แม้ร่างกายยังคงประท้วงด้วยความสั่นสะท้านของขาทั้งสองข้าง "ไม่ต้อง ๆ ข้าไหว" นางปลดตะกร้าวางลงอย่างคล
더 보기
หญิงงามในคราบแม่ค้า
ฉินมู่อิงตื่นตั้งแต่ฟ้ายังไม่สาง แสงไฟจากตะเกียงในห้องครัวสว่างราง ๆ ก่อนใครในละแวกนี้ นางอุ่นซุปเมื่อคืนที่ยังเหลือครึ่งหม้อและเคี่ยวยาให้อาเหยียนไปด้วย "เขาถูกพิษร้ายแรงหรือไรถึงต้องใช้หมอเทวดา" นางไม่มีความรู้เรื่องเหล่านี้แต่นางมีวิธีบริหารจัดการเพื่อเสาะหาหมอดี ๆ มารักษาเขาได้ "หมอเก่ง ๆ ในโลกนี้ต้องมีแน่ ขอแค่มีเงินจ่ายและวาสนาที่มีต่อกัน" ภายในห้องนอน อาเหยียนนอนหลับสนิทท้องฟ้าเริ่มสว่างแต่ยังไร้แสงแดด ไม่นานเขาก็ลืมตาตื่นขึ้นมา ฉินมู่อิงนำยาต้มและซุปมาให้ วันนี้นางทำข้าวต้มและผัดผักเพิ่ม "ข้าจะไปขึ้นเขาแต่เช้าเผื่อหาของมาขายได้ ท่านอยู่คนเดียวดูแลตัวเองด้วย" เขาลุกขึ้นนั่งเชื่องช้าเหมือนร่างกายอ่อนเพลียลง "เจ้า...ไม่กลัวหรือ" สายตาของเขาดูกังวลแม้ก่อนหน้านี้นางจะขึ้นเขาไปหลายรอบแล้วก็ตาม นางส่ายหน้าแววตามั่นใจอย่างที่ไม่เคยเห็น การเดินขึ้นภูเขาวันนี้เร็วขึ้นกว่าวันก่อน ๆ นางจำเส้นทางได้จากความทรงจำเดิม เดินลัดเลาะเข้าไปด้านในที่อากาศเริ่มเย็นลงเรื่อย ๆ นางหยุดยืนมองเบื้องหน้าแม้จะไม่แปลกใจมากก็อดตื่นตะลึงไม่ได้ นางเงยหน้ามองต้นพุทราของยุคโบราณ กิ่งก้านมันโค้งโน้มล
더 보기
คำถามจากป้าเจี่ย
นางนับเงินในมือได้ไม่มากนัก แต่ก็พอให้ใจชื้น พอเดินผ่านร้านรวงที่มีผ้าสวย ๆ และขนมหน้าตาน่ากิน แต่นางข่มใจไม่ซื้อแม้แต่อย่างเดียว "ต้องรอพุทราตากแห้งรอบหน้า ถ้าขายให้ร้านยาได้ราคาดีกว่านี้ค่อยซื้อยาและของกินดี ๆ กลับไปให้อาเหยียน" นางเดินกลับบ้านด้วยความหวัง ทิ้งปริศนาไว้ที่สายตาของคุณชายผู้จากไปคนนั้น เมื่อฉินมู่อิงเดินลากสังขารที่เหนื่อยล้ากลับมาถึงรั้วบ้านไม้ไผ่ของหมู่บ้านเว่ยเซียงนางก็ต้องชะงัก ภาพตรงหน้าคืออาเหยียนในชุดผ้าป่านสีซีดที่ดูหลวมโคร่งเพราะความซูบผอม เขากำลังนั่งอยู่บนม้านั่งเตี้ย ๆ หน้าบ้าน มือเรียวยาวที่แม้จะดูอ่อนแรงแต่ยังคงความมั่นคง กำลังหยิบพุทราป่าที่เหลือจากการคัดต้มล้างอย่างประณีต วางเรียงลงบนกระด้งไม้ไผ่อย่างเป็นระเบียบเพื่อให้โดนแดดสุดท้ายของวันอย่างทั่วถึง อาเหยียนหยิบพุทราลูกหนึ่งขึ้นมาพิจารณา ผิวของมันสะท้อนแสงอาทิตย์เป็นสีแดงก่ำ ความทรงจำอันโหดร้ายวูบเข้ามาในหัว กลิ่นคาวเลือด ควันไฟ และความเหน็บหนาวในป่าลึกทางเหนือ ในตอนนั้นเขารอดชีวิตมาได้ก็เพราะพุทราป่าที่แห้งเหี่ยวและแคระแกร็นเพียงไม่กี่ลูกที่หล่นอยู่บนพื้นดิน แต่พุทราในมือนี้กลับต่างออกไป มันทั้
더 보기
บัณฑิตพบสาวงาม
บรรยากาศในห้องนอนแคบ ๆ เต็มไปด้วยความกระอักกระอ่วนที่มองไม่เห็น ฉินมู่อิงถอนหายใจทิ้งเบา ๆ พลางเหลือบมองร่างที่นอนนิ่งอยู่บนเตียงไม้ นางค่อย ๆ ก้าวเท้าอย่างแผ่วเบาเข้าไปใกล้โต๊ะหัวเตียงเพื่อจัดการกับตะเกียงน้ำมันที่ส่องแสงสว่างจ้าเกินจำเป็นอาเหยียนยังคงนอนนิ่งประหนึ่งก้อนหิน เปลือกตาปิดสนิทแต่แพขนตากลับสั่นระริกน้อย ๆ อย่างที่เจ้าตัวคงไม่รู้ตัว เขารับรู้ถึงเงาร่างของสตรีที่โน้มใกล้ลงมา กลิ่นหอมจาง ๆ ของพุทราป่าและเหงื่อไคลจากการทำงานหนักโชยมาแตะจมูก ยิ่งทำให้อัตราการเต้นของหัวใจเขาควบคุมไม่อยู่ฉินมู่อิงยื่นมือออกไปหวังจะหรี่ไฟให้มืดลง แต่นางกลับชะงักมือไปครู่หนึ่งเมื่อเห็นแสงตะเกียงสะท้อนใบหน้าคมคายของเขา แม้จะซูบผอมและซีดเซียวไปบ้าง แต่โครงหน้าของเขากลับดูสง่างามจนนางอดคิดไม่ได้ว่าคนผู้นี้ไม่ควรมานอนทุกข์ระทมอยู่ที่หมูบ้านเชิงเขาเช่นนี้เลยนางเป่าลมเบา ๆ จนเปลวไฟวูบดับลง ความมืดมิดเข้าปกคลุมห้องทันที มีเพียงแสงจันทร์รำไรที่ส่องผ่านรอยแตกของฝาบ้านเข้ามาพอให้เห็นเงาราง ๆฉินมู่อิงขยับตัวก้าวถอยหลังพยายามไม่ให้เกิดเสียง แล้วเดินออกไปจากห้องเพื่อจัดการเปลี่ยนถ่ายอาหารและล้างชามแกงของป้
더 보기
ท่านผู้ตรวจการ
สามวันต่อมาเป็นวันที่อากาศแจ่มใส ฉินมู่อิงจัดการแบ่งพุทราที่ตากจนแห้งสนิท ผิวสีแดงเข้มย่นระยิบระยับและมีกลิ่นหอมหวานลุ่มลึก นางแบ่งส่วนหนึ่งใส่โหลดินเผาไว้ต้มให้อาเหยียนดื่มบำรุงกำลัง ส่วนที่เหลือห่อผ้าสะอาดอย่างดีเตรียมเข้าเมือง"อาหารวางไว้บนโต๊ะ ข้าอุ่นแกงของป้าเจี่ยไว้ให้แล้ว พุทราแห้งนี่ท่านก็หยิบกินเล่นได้ แต่อย่ากินเยอะเดี๋ยวจะท้องอืด" นางกำชับพลางตรวจดูความเรียบร้อยอาเหยียนพยักหน้าเงียบ ๆ สายตาคมกริบมองตามร่างอ้อนแอ้นที่สะพายตะกร้าเดินลับรั้วหมู่บ้านไป ในมือเขาเริ่มขยับมีดแกะสลักไม้ชิ้นใหม่ คราวนี้เขาตั้งใจทำกล่องไม้ลายนกยูงตามที่นางเปรยไว้ร้ายขายยาเหอถังฉินมู่อิงเลือกเข้าร้านยาที่มีขนาดปานกลางแต่ดูสะอาดสะอ้านและมีคนไข้แวะเวียนมาตลอด นางยื่นห่อพุทราแห้งให้หลงจู๊วัยกลางคนตรวจดูหลงจู๊หยิบพุทราขึ้นมาดมและบิเนื้อดู"อืม พุทราป่าแห้งชุดนี้ เนื้อแน่น กลิ่นหอมแรงเมล็ดเล็กสมบูรณ์ดีมาก เจ้าไปได้มาจากที่ใดรึ ปกติของป่ามักจะลีบแบนกว่านี้""เก็บจากหุบเขาที่อากาศเย็นจัดและดินดีเจ้าค่ะ ข้าคัดเฉพาะลูกที่สมบูรณ์ที่สุด ล้างสะอาดและตากแดดจนได้ที่ รับรองว่าต้มออกมาแล้วน้ำยาจะหวานหอม บำรุงหั
더 보기
ป้าเจี่ยทิ้งระเบิด
ยามสายที่แสงแดดเริ่มอบอุ่น อาเหยียนในชุดผ้าป่านสีซีดกำลังใช้ไม้กวาดทางมะพร้าวกวาดใบไม้แห้งอย่างเชื่องช้า ร่างกายที่ยังไม่ฟื้นตัวดีทำให้เขาดูซูบเซียว แต่แผ่นหลังยังคงเหยียดตรงทำให้เขามีสง่าราศีต่างจากชาวบ้านทั่วไปทันใดนั้น เสียงฝีเท้าและเสียงซุบซิบแหลมเล็กก็ดังขึ้นที่รั้วเตี้ย ๆ หน้าบ้าน หญิงกลางคนสามคนที่ขึ้นชื่อเรื่องปากหอยปากปู เดินทอดน่องผ่านหน้าบ้านพลางเหลือบมองอาเหยียนด้วยสายตาเวทนาแกมดูถูก"เฮ้อ น่าสงสารนะเนี่ย เมียออกไปในเมืองทั้งวัน ทิ้งให้สามีขี้โรคกวาดใบไม้อยู่บ้านคนเดียว" ป้าจิ้งเริ่มเปิดประเด็น เสียงดังพอที่จะให้อาเหยียนได้ยินชัดเจน"นั่นสิ เมื่อวานข้าเข้าเมืองไปพอดี เห็นเต็มสองตาเลยนะ แม่มู่อิงน่ะยืนคุยกระหนุงกระหนิงกับใต้เท้าขุนนางในร้านเครื่องหอม ท่าทางยั่วยวนพิลึก สงสัยอยากจะทอดสะพานหาเป้าหมายใหม่ล่ะมั้ง" ป้าเฉียวจีบปากจีบคอพูดเสริม"ก็ใครเขาอยากจะแบกภาระไปตลอดชีวิตล่ะ" ป้าเจี้ยนหัวเราะร่วนขึ้นมาทันใด"มีสามีป่วยออด ๆ แอด ๆ สู้ไปเกาะขุนนางกินไม่ดีกว่ารึ หน้าไม่อายจริง ๆ มีผัวแล้วยังจะไปทอดสะพานให้ชายอื่น"อาเหยียนชะงักไม้กวาดในมือ กรามของเขาขบเข้าหากันแน่นจนเป็นสัน
더 보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status