로그인รับตำแหน่งใหม่ได้ไม่กี่วัน ฉินมู่อิงก็เสียชีวิตทะลุมิติมาอยู่ในร่างหญิงสาวยากจนที่มีสามีป่วยรออยู่ที่บ้าน ตั้งแต่บิดาเสียชีวิต นางก็ถูกจับแต่งงานกับบุรุษแปลกหน้าที่บิดาช่วยเหลือไว้เพื่อรักษาชื่อเสียงและความปลอดภัย นางตั้งใจหาเงินรักษาสามี ส่วนเขาก็ช่วยกันเต็มที่ ก่อเกิดเป็นความรู้สึกดี ๆ ขึ้นในใจ ทว่าเมื่อหายป่วยเขาก็จากนางไปด้วยเหตุผลบางประการ นางไม่ตามหาแต่กลับเลือกใช้ชีวิตที่มีเพียงตัวคนเดียว โชคชะตาเล่นตลกกับนางไม่เลิกเมื่อนางได้พบเขาในฐานะใหม่ที่ยิ่งทำให้ทั้งคู่เหมือนไกลกันออกไปเรื่อย ๆ พร้อมกับการค้นพบตัวตนของตนเองอย่างนึกไม่ถึง
더 보기Sore itu sekolah sudah mulai sepi, menyisakan koridor panjang yang terasa sedikit angker.
Arjuna Dewangga alias Juna, menyeka keringat yang bercucuran deras di dahi menggunakan punggung tangannya yang kasar.
Dia memanggul keranjang plastik berisi sisa botol jamu dagangannya yang beratnya lumayan menguras tenaga.
Untungnya, sinom dan beras kencur buatan Ibu Lastri selalu ludes diborong teman-teman sekolah yang kehausan setelah jam pelajaran selesai.
“Alhamdulillah, kalau laris begini terus, uang obat Ibu buat bulan depan aman,” batin Juna sambil tersenyum kecut mengingat kondisi Ibunya di rumah.
Langkah kaki Juna menggema di koridor lantai dua, melewati deretan kelas yang sudah terkunci rapat.
Entah kenapa, perasaannya mendadak tidak enak saat mendekati lorong toilet guru wanita di ujung selasar.
Lorong itu terkenal sunyi, apalagi lampu neonnya sering berkedip-kedip seperti di film horor murahan..
Satu botol kaca jamu mendadak tergelincir dari tumpukan di keranjang plastik Juna karena pegangannya yang sudah agak longgar.
Duggg….Duggg..Duggg...Klontang…!
Benda itu menghantam lantai, namun tidak pecah, melainkan menggelinding dengan kecepatan penuh ke arah toilet wanita.
"Waduh, mampus! Botol modal ituh…!" umpat Juna dengan suara tertahan.
Dia segera berlari kecil mengejar botol itu yang seolah punya nyawa sendiri.
Celakanya, botol itu menggelinding masuk ke celah pintu bilik paling ujung yang sedikit terbuka.
Juna berhenti tepat di depan pintu toilet guru yang biasanya dilarang dimasuki siswa pria mana pun.
“Aduh, gimana inih? Kalau ketahuan Pak Broto, habis aku dikuliti hidup-hidup,” batin Juna sambil menoleh ke kanan dan kiri dengan waspada.
Rasa takut akan hukuman kalah telak oleh rasa sayang Juna pada barang dagangannya.
Juna menarik napas panjang, lalu menyelinap masuk ke dalam area toilet guru yang beraroma wangi mawar itu.
Dia membungkuk rendah, berusaha meraih botol jamu yang bersembunyi di balik bayangan pintu bilik.
Namun, tepat saat tangannya hampir menyentuh botol, Juna mendengar suara yang membuat jantungnya hampir melompat keluar dari tenggorokan.
"Ahhh... essshhh... sedikit lagihhh...!"
Suara desahan itu terdengar sangat berat, basah, dan penuh tekanan.
Juna membeku di posisi membungkuk, kepalanya tanpa sengaja melewati celah pintu yang terbuka sekitar sepuluh sentimeter.
Di dalam sana, di atas kloset duduk, Ibu Arini Kusuma sedang berada dalam kondisi yang menghancurkan seluruh logika Juna sebagai siswa teladan.
Guru Bahasa Indonesia yang terkenal anggun dan selalu rapi itu kini tampak berantakan.
Rok span hitam ketat miliknya sudah tersingkap sangat tinggi, bahkan melewati batas paha atasnya yang putih mulus.
“Be-Beneran mulusss... lebih mulus dari porselen di toko bangunan!” batin Juna dengan mata melotot liar.
Jari tangan kanan Ibu Arini bergerak ritmis di balik kain tipis yang menutupi area ‘apem tembem’ miliknya.
Wajah Ibu Arini memerah padam, keringat sebesar biji jagung membasahi leher jenjangnya.
Napasnya memburu, menciptakan uap hangat yang terasa memenuhi bilik sempit tersebut.
Juna merasakan suhu tubuhnya mendadak naik drastis seolah dia baru saja menenggak satu galon jamu penguat stamina.
“Gustiii... Ibu Arini lagi mainin anunya sendiri? Di toilet sekolah?” batin Juna sambil menelan ludah dengan susah payah.
Rasanya ada sesuatu yang mengeras di balik celana seragam Juna yang sudah mulai kerasa kekecilan itu.
‘Batangan nakal’ miliknya mendadak bereaksi, menegang kaku seolah mendapatkan sinyal magnetis dari pemandangan di depannya.
Juna yang panik mencoba menarik kembali kepalanya, namun sialnya, kakinya justru tersandung botol kaca tadi.
Takkk…!
Bunyi botol yang membentur keramik terdengar begitu nyaring di ruangan yang sunyi itu.
Ibu Arini tersentak, matanya yang tadi terpejam sayu langsung membelalak lebar.
Dia menunduk dan langsung beradu pandang dengan wajah Juna yang masih membeku di bawah sana.
"Ju-Juna?!" pekik Ibu Arini dengan suara yang pecah karena kaget sekaligus malu.
Juna refleks menutup kedua matanya rapat-rapat menggunakan kedua telapak tangannya.
"A-A-Anu, Bu! S-Sumpah, Juna cuma mau ambil botol yang gelinding!" seru Juna dengan suara bergetar sehebat gempa bumi.
Dia merasa wajahnya terbakar, apalagi dia tahu posisi Ibu Arini masih sangat terbuka di depannya.
“Mampus aku! Habis ini pasti dikeluarkan dari sekolah! Mana beasiswa lagih…!” batin Juna meratap histeris.
Keringat dingin mengalir deras dari pelipisnya, membasahi tangannya yang masih menutupi mata.
"Junaaa... kamuuu... kamu lihat apa saja tadi?" tanya Ibu Arini dengan nada yang aneh, antara marah dan memohon.
"E-Enggak lihat apa-apa, Bu! Gelap semua! Sumpah, mata Juna minusnya nambah mendadak!" bohong Juna sambil gemetaran.
Dia mencoba membalikkan badan, berniat lari sekencang mungkin tanpa mempedulikan botol jamunya lagi.
Namun, sebelum Juna sempat melangkah keluar dari bilik, sebuah tangan yang terasa sangat panas mencengkeram pergelangan tangannya.
Cengkeraman itu begitu kuat, seolah-olah ditarik oleh seorang atlet angkat besi, bukan seorang guru wanita.
Srettt…!
"Masuk ke sini!" perintah Ibu Arini dengan nada rendah namun penuh penekanan.
Juna terseret mundur masuk ke dalam bilik yang hanya berukuran satu kali satu meter itu.
Brakkkk!
Pintu bilik ditendang tutup oleh kaki Ibu Arini yang masih belum menurunkan rok spannya secara sempurna.
Klik!
Suara kunci pintu yang diputar terdengar seperti vonis hukuman mati bagi Juna.
Punggung Juna menghantam dinding keramik yang dingin, namun dadanya justru bersentuhan dengan bahu Ibu Arini yang panas.
Aroma parfum mawar bercampur dengan bau keringat yang sangat tajam dan menggairahkan langsung menyerang hidung Juna.
Ibu Arini menyandarkan kepalanya di dada Juna, bahunya naik turun seiring dengan napasnya yang belum teratur.
"B-Bu... i-iniii… salah paham, Bu. Juna janji nggak akan bilang siapa-siapa kalau Ibu lagiii... anu..." ucap Juna dengan suara mencicit.
Ibu Arini mendongak, menatap Juna dengan mata yang tampak sangat sayu dan dipenuhi gairah yang belum tuntas.
"Saya menderita penyakit langka, Juna. Sesuatu yang hanya muncul jika saya terlalu lama menahannya," gumam Ibu Arini lirih.
Juna semakin bingung, otaknya yang sudah mesum makin sulit diajak bekerja sama.
"Pee…Penyakit apa, Bu? Butuh jamu kunyit asam saya?" tanya Juna dengan polosnya.
Ibu Arini menggeleng, lalu menarik tangan Juna menuju ke arah pinggangnya yang ramping.
"Ini bukan penyakit yang bisa sembuh dengan jamu murahmu itu, Juna."
Wajah Ibu Arini mendekat ke arah telinga Juna, membisikkan sesuatu yang membuat seluruh saraf Juna menegang.
"Tubuh saya mendadak terasa dingin seperti es jika tidak ada yang menyentuhnya... dan kamu, Juna, tubuhmu terasa sangat panas."
Tangan Ibu Arini kini mulai meraba dada bidang Juna, mencari detak jantung pemuda itu yang berpacu gila.
"A-A-Anu... Bu... J-Juna harus pulang," ucap Juna terbata-bata sambil mencoba melepaskan diri.
Namun, Ibu Arini justru semakin merapatkan tubuhnya, membuat Juna bisa merasakan kenyalnya "melon" besar milik gurunya itu menekan dadanya.
Deggg...
Juna merasa dunianya seolah berhenti berputar detik itu juga.
Ibu Arini menatap lurus ke mata Juna, lalu berkata dengan suara yang sangat serius.
"Saya ingin kamu menjadi 'obat' pribadi saya mulai sore ini, Juna."
"Aa... apanya yang diobati, Bu?" tanya Juna dengan keringat dingin yang semakin deras.
Ibu Arini menarik tangan Juna lebih rendah lagi, menuju ke arah kakinya yang masih terbuka lebar.
"Semuanya. Dan jika kamu menolak, saya pastikan beasiswamu dicabut besok pagi."
Juna tertegun, ancaman itu menghantamnya tepat di ulu hati.
Di satu sisi dia ketakutan, tapi di sisi lain, batin mesumnya justru mulai menikmati aroma dan kehangatan tubuh Ibu Arini.
“Sialan... kenapa ini malah jadi kontrak ranjang?!” batin Juna menjerit dalam dilema.
Pintu toilet mendadak terdengar diketuk dari luar dengan keras.
Tok! Tok! Tok!
"Arini? Kamu di dalam?" suara berat Pak Broto terdengar di balik pintu toilet luar.
Juna dan Ibu Arini seketika membeku, saling menatap dengan napas tertahan.
"Mampus... Pak Broto!" bisik Juna dengan wajah yang mendadak pucat pasi.
Ibu Arini segera membungkam mulut Juna dengan telapak tangannya yang harum.
Dia memberi isyarat agar Juna tidak mengeluarkan suara sedikit pun.
Masalahnya, wajah mereka kini hanya berjarak beberapa sentimeter saja, dan tangan Juna masih tertahan di atas paha mulus gurunya itu.
Ibu Arini menatap pintu bilik dengan tajam, sementara tangan lainnya mulai meraih kunci pintu seolah siap melakukan sesuatu yang nekat.
เสียงดาบกระทบกันเริ่มเบาบางลงเหลือเพียงเสียงคร่ำครวญของผู้แพ้ ทหารองครักษ์ผู้ภักดีต่อฮ่องเต้ทรราชถูกสยบจนหมดสิ้น จ้าวจิ้งเซียนในชุดเกราะที่เปรอะเปื้อนไปด้วยเลือดยืนเด่นอยู่หน้าบัลลังก์ทอง ดาบในมือชี้ตรงไปที่คอของอดีตฮ่องเต้ที่ยามนี้มงกุฎหลุดลุ่ย สภาพไม่ต่างจากสุนัขจนตรอกอดีตฮ่องเต้ตัวสั่นด้วยความขลาดเขลา "จิ้งเซียน ข้าเป็นอาของเจ้านะ เจ้าจะฆ่าสหายแท้ ๆ ของพ่อเจ้าเพื่อบัลลังก์เย็นชานี่รึ"จ้าวจิ้งเซียนสายตาเย็นเยียบดุจน้ำแข็ง"ท่านไม่ใช่ญาติของข้า ท่านคือฆาตกรที่พรากทุกอย่างไปจากข้า บัลลังก์นี้ข้าไม่ได้อยากได้ แต่มันต้องถูกทำลายทิ้งพร้อมกับความชั่วช้าของท่าน ทหาร! ลากตัวมันไปขังคุกใต้ดินที่มืดที่สุด รอวันประหารเจ็ดชั่วโคตร!"เสียงโซ่ตรวนที่ลากไปกับพื้นหินขัดดังก้องไปทั่วโถง เป็นสัญญาณว่ารัชสมัยแห่งความหวาดกลัวได้สิ้นสุดลงแล้วในขณะที่ข้างนอกรบกันจนแผ่นดินสะเทือน ฮองเฮาทรงกักตัวอยู่ในห้องรับรองพร้อมฉินมู่อิงและข้าราชบริพารบางส่วนฉินมู่อิงนั่งกอดเข่าตัวสั่นอยู่ในความมืด นางไม่ได้กลัวความตาย แต่นางเป็นห่วง อาเหยียนจนหัวใจจะขาด นางภาวนาต่อสิ่งศักดิ์สิทธิ์ขอเพียงให้เขารอดกลับมาหานางก็พอ
งานเลี้ยงส่วนพระองค์แสงโคมส่องสว่างไปทั่วโถงใหญ่ กลิ่นสุราเลิศรสและเสียงดนตรีดังก้อง ฮ่องเต้แคว้นหยวนประทับบนบัลลังก์ทองด้วยรอยสรวลที่ดูเมตตา แต่แววตากลับเย็นเยียบราวกับงูพิษที่รอจังหวะฉกในงานเลี้ยงนี้มีแขกจากแคว้นโฮ่วเว่ยที่ได้รับคำเชิญเป็นกรณีพิเศษ แม้สายลับของพวกเขาจะยังสืบหาเบื้องลึกเบื้องหลังไม่ได้ชัดเจน แต่การมาร่วมงานครั้งนี้ก็เพื่อจับตาดูดุลอำนาจที่กำลังจะเปลี่ยนไปฮ่องเต้ยกจอกสุราขึ้นกล่าวเปิดงาน "วันนี้เป็นวันมงคลยิ่งนักที่เหล่ามิตรประเทศมารวมตัวกัน และยังเป็นวันที่ข้าจะได้ประกาศข่าวดีเรื่องการเกี่ยวดองระหว่างราชวงศ์กับจวนกั๋วกง จิ้งเซียน เจ้าจงมาดื่มสุรามงคลนี้ร่วมกับองค์หญิงสามเสีย"ในขณะที่หน้าฉากดูชื่นมื่น แต่ในใจของฮ่องเต้กลับวางหมากไว้หมดแล้ว พระองค์ตรัสกับขันทีคนสนิทเบา ๆ ในมุมมืด "ให้จิ้งเซียนแต่งงานไปก่อนเถิด ข้าไม่อยากให้มือตัวเองเปื้อนเลือดหลานในงานมงคล ให้องค์หญิงสามเป็นคนลงมือในคืนเข้าหอ ยาพิษที่ข้ามอบให้นางจะทำให้เขาสิ้นใจเหมือนเป็นโรคปัจจุบันทันด่วน ใคร ๆ ก็จะคิดว่าซื่อจื่อผู้น่าสงสารสิ้นใจเพราะร่างกายอ่อนแอจากการรบ ส่วนข้าก็จะได้ครองอำนาจจวนกั๋วกงทั้งหมดโ
จ้าวจิ้งเซียนยืนตัวตรงนิ่งสง่า เขาพยักหน้ารับราชโองการสมรสพระราชทานด้วยใบหน้าที่ไร้ความรู้สึก ท่ามกลางความดีใจของท่านกั๋วกงและฮูหยินที่คิดว่าลูกชายยอมสยบต่ออำนาจแล้ว"กระหม่อมจ้าวจิ้งเซียน น้อมรับพระมหากรุณาธิคุณพะย่ะค่ะ"ในขณะที่เขากล่าวคำนั้น สายตาของเขาเหลือบไปเห็นฉินมู่อิงที่ยืนปะปนอยู่กับกลุ่มสาวใช้ท้ายแถว นางก้มหน้าลงต่ำ แต่เขาก็ยังเห็นหยดน้ำตาที่หยดลงบนพื้นดิน หัวใจของพยัคฆ์หนุ่มเหมือนถูกกรีด แต่เขาต้องต้องกลั้นใจ เขาต้องทำให้นางไร้ตัวตนที่สุดในสายตาฮ่องเต้ เพื่อให้นางปลอดภัยจากพายุที่กำลังจะมาจ้าวจิ้งเซียนลอบเข้ามาหาฉินมู่อิงที่ห้องพักสาวใช้เหมือนเช่นเคย แต่คราวนี้เขากลับคุกเข่าลงต่อหน้านางและกุมมือที่หยาบกร้านจากการทำงานหนักของนางขึ้นมาแนบแก้ม"มู่อิงยกโทษให้ข้าด้วย วันนี้ที่ข้าต้องเมินเฉยต่อเจ้า และยอมรับสมรสกับสตรีผู้นั้น ทั้งหมดคือละครฉากหนึ่ง ข้าต้องเข้าใกล้ฮ่องเต้ให้มากที่สุดในวันพิธี เพื่อจะปลิดชีพฆาตกรที่ฆ่าพ่อแม่ข้า"ฉินมู่อิงสะอื้นไห้แต่ลูบผมเขาอย่างเบามือ "อาเหยียน ข้าเข้าใจ แม้ข้าจะเจ็บที่ต้องเห็นท่านยืนเคียงคู่ผู้อื่น แต่ข้ารู้ว่าหัวใจของท่านอยู่กับข้า ข้าจะรอวั
จ้าวจิ้งเซียนเดินออกมาจากการหารือกับท่านกั๋วกงด้วยสีหน้าเคร่งเครียด แต่ฝีเท้าของเขากลับชะงักเมื่อเห็นร่างที่คุ้นเคยกำลังคุกเข่าขัดพื้นหินอ่อนอย่างโดดเดี่ยว ฉินมู่อิงตัวสั่นเทา ผิวแก้มซูบซีด และที่สะดุดตาที่สุดคือรอยแดงพองจากการถูกน้ำร้อนลวกที่แขน ซึ่งนางพยายามใช้แขนเสื้อปกปิดไว้"มู่อิง!" จ้าวจิ้งเซียนถลาเข้าไปประคองร่างนางขึ้นมาทันที เมื่อสัมผัสถูกตัวนางถึงกับสะดุ้งด้วยความเจ็บปวดจ้าวจิ้งเซียนเสียงสั่นด้วยความโกรธ "นี่มันอะไรกัน! ใครทำเจ้าบาดเจ็บขนาดนี้"ฉินมู่อิงส่ายหน้าทั้งน้ำตาพยายามจะดึงแขนกลับ "ข้าไม่เป็นไรเจ้าค่ะ ข้าแค่ซุ่มซ่ามเอง"แต่ซื่อจื่อผู้เฉลียวฉลาดมีหรือจะเชื่อ เขาเหลือบไปเห็นเสี่ยวชิวที่ยืนถือแส้อยู่ไม่ไกล แววตาของจ้าวจิ้งเซียนเปลี่ยนเป็นสีแดงก่ำด้วยความโกรธจัด เขาอุ้มฉินมู่อิงขึ้นแนบอกแล้วเดินดิ่งเข้าไปในห้องของฮูหยินกั๋วกงทันทีโดยไม่ฟังเสียงคัดค้านจากบ่าวไพร่ปัง! เสียงประตูถูกถีบเปิดออก ฮูหยินกั๋วกงที่กำลังจิบชาถึงกับสะดุ้งโหยงจ้าวจิ้งเซียนตวาดลั่นจนแจกันสั่นสะเทือน "ท่านแม่! ท่านทำอะไรลงไป! ข้าบอกแล้วว่านางคือภรรยาของข้า แต่ท่านกลับปฏิบัติกับนางเยี่ยงสัตว์เด
บรรยากาศในห้องนอนแคบ ๆ เต็มไปด้วยความกระอักกระอ่วนที่มองไม่เห็น ฉินมู่อิงถอนหายใจทิ้งเบา ๆ พลางเหลือบมองร่างที่นอนนิ่งอยู่บนเตียงไม้ นางค่อย ๆ ก้าวเท้าอย่างแผ่วเบาเข้าไปใกล้โต๊ะหัวเตียงเพื่อจัดการกับตะเกียงน้ำมันที่ส่องแสงสว่างจ้าเกินจำเป็นอาเหยียนยังคงนอนนิ่งประหนึ่งก้อนหิน เปลือกตาปิดสนิทแต่แพขน
นางนับเงินในมือได้ไม่มากนัก แต่ก็พอให้ใจชื้น พอเดินผ่านร้านรวงที่มีผ้าสวย ๆ และขนมหน้าตาน่ากิน แต่นางข่มใจไม่ซื้อแม้แต่อย่างเดียว "ต้องรอพุทราตากแห้งรอบหน้า ถ้าขายให้ร้านยาได้ราคาดีกว่านี้ค่อยซื้อยาและของกินดี ๆ กลับไปให้อาเหยียน" นางเดินกลับบ้านด้วยความหวัง ทิ้งปริศนาไว้ที่สายตาของคุณชายผู้จากไป
ฉินมู่อิงตื่นตั้งแต่ฟ้ายังไม่สาง แสงไฟจากตะเกียงในห้องครัวสว่างราง ๆ ก่อนใครในละแวกนี้ นางอุ่นซุปเมื่อคืนที่ยังเหลือครึ่งหม้อและเคี่ยวยาให้อาเหยียนไปด้วย "เขาถูกพิษร้ายแรงหรือไรถึงต้องใช้หมอเทวดา" นางไม่มีความรู้เรื่องเหล่านี้แต่นางมีวิธีบริหารจัดการเพื่อเสาะหาหมอดี ๆ มารักษาเขาได้ "หมอเก่ง ๆ ใน
ฉินมู่อิงเดินจากมาด้วยความสะใจ นางเดินกลับบ้านพลางคิดไปตามทาง ไม่ว่าโลกยุคไหนก็ยังมีคนที่เหยียดหยามผู้ที่ดูด้อยกว่า นางมีเกราะป้องกันที่แข็งแกร่งติดตัวมา การโดนดูแคลนเช่นวันนี้นางจึงไม่แสดงความอ่อนแอออกมา ความทรงจำร่างเก่าผุดขึ้นมาในทันใด เมื่อก่อนฉินมู่อิงไม่เคยพบปะผู้คนมากมายขนาดนี้ หากสายตาเหล่า

















